//
you're reading...
Edisi Januari 2009: Wajah Spiritualitas di Sekitar Kita, Utama

Spirituality within Religion Atawa Spirituality without Religion


By Wa Ode Zainab Z. Toresano
Periode Rennaisans diawali dengan merebaknya paham baru, yakni Humanisme. Hal tersebut memberikan dampak adanya pemusatan pada manusia. Buah munculnya perasaan memiliki eksistensi. Gejala ini telah menyentuh seluruh elemen, termasuk dalam kaitannya dengan spiritualitas dan agama. Manusia merasa tidak membutuhkan faktor eksternal di luar dirinya untuk meniti jalan spiritualitas. Agama dirasa tidak dibutuhkan lagi dan bukan satu-satunya jalan menuju Divine. Hal ini sebagai langkah awal ditabuhnya genderang pertarungan antara spirituality within religion dengan spirituality without religion yang didasari pada rasionalisasi.

Kata ”spiritualitas” berasal dari kata latin “spiritus” yang dapat diartikan sebagai ”roh, jiwa, sukma, nafas, hidup, ilham, kesadaran diri, kebebasan hati, keberanian, sikap dan perasaan.” Esensi dari spiritualitas bermakna percaya kepada sesuatu di luar (beyond). Kita yang tak mampu mengatur segalanya dan kita tak berdaya mencegah-Nya berbuat sesuatu. Dengan kata lain, spiritualitas berarti kesadaran pada sesuatu yang absolut.

Spirituality within religion adalah jalan spiritualitas menuju Sang Ilahi melalui berbagai konsekuensi dari bangunan agama itu sendiri. Pertama, yakni adanya keimanan atau keyakinan terhadap Tuhan atau apa pun yang menjadi tujuan kita dalam perjalanan spiritual. Kedua, yakni memprioritaskan pada ketenangan dan keheningan. Hal tersebut sebagai suatu upaya ritual yang mewujudkan tercapainya tahap meditatif. Ketiga, setiap agama memproritaskan pada pembersihan diri berupa detoksifikasi, seperti pelaksanaan tobat. Keempat, yakni kegiatan beramal dan mengucakan syukur kepada Sang Ilahi atas rahmat dan nikmat-Nya. Kelima, yakni penyerahan diri secara total (pasrah). Hal ini merupakan penekanan dari setiap agama dalam jalan spiritual menuju Divine.

Sementara itu, spirituality without religion memiliki definisi tersendiri mengenai agama dan pengalaman religius yang diutarakan oleh penganutnya. Seperti yang dikemukakan oleh William James dalam The Varieties of Religious Experience. Agama menurutnya adalah “Segala perasaan, tindakan, dan pengalaman pribadi manusia dalam kesendiriannya, sejauh mereka memahami diri mereka sendiri saat berhadapan dengan apa pun yang mereka anggap sebagai Ilahiah.”

Jadi, menurut mereka yang mengibarkan bendera spirituality without religion; agama selaras dengan perjalanan spiritualitas yang sifatnya personal menuju sesuatu yang dianggapnya sakral atau Ilahiah. Hal tersebut memiliki relevansi dengan hakikat manusia. Manusia — sebagai makhluk sempurna — memiliki kemampuan menghantarkannya diri sendiri menuju sesuatu yang suci tanpa ikut campur dari agama.

Manusia — sebagai makhluk yang paling sempurna — memiliki potensi menuju kesadaran pada Divine. Pada dasarnya, manusia sudah mengetahui identitasnya terutama kaitannya dengan Sang Ilahi. Akan tetapi, dunia yang penuh dengan tipu daya ini melenakan dirinya dengan segala keindahan yang semu. Oleh karena itu, harus ada sesuatu yang mengingatkannya terhadap identitas sebagai manusia. Dalam hal inilah, mereka yang berada di kubu Spirituality within religion menyatakan bahwa agama sebagai pengingat manusia yang menghantarkan pada jalan spiritualitas.

Sementara itu, mereka yang mendukung spirituality without religion tetap berpendapat bahwa manusia memiliki potensi untuk menjadi (becoming). Hal ini termasuk dalam kesadaran menuju Sang Ilahi. Dengan menciptakan identitas dirinya, sehingga setiap individu memiliki jalan menuju Divine. Hal tersebut membuka peluang adanya individu yang progresif dalam segala hal. Oleh karena itu, dalam hal perjalanan spiritual manusia mampu mencapai Ilahi tanpa melalui agama — faktor eksternal di luar diri manusia — karena memiliki potensi tersebut.

Spiritualitas berangkat dari fitrah manusia yang cenderung kepada sesuatu yang lebih agung darinya. Ada beberapa elemen esensial — sesuai dengan tingkatan (maqam) manusia — di dalam agama yang mengakomodasi fitrah manusia menuju sesuatu Yang Maha Agung tersebut. Pada tingkatan terendah, yakni al-risalah terdapat syariah yang mencakup fiqh dan aqidah. Pada tingkatan al-nubuwwah terdapat tariqah yang lebih fokus dan intim karena terdapat pembimbing yang mengantarkannya pada Divine. Pada tingkatan tertinggi, yakni maqam al-wilayah yang mencakup hakikat. Pada tingkatan ini, manusia sudah memancarkan Divine Names.

Di dalam spirituality without religion yang terpenting adalah kesadaran mistis dari setiap individu dalam perjalanan spiritual. Ada beberapa kriteria yang mengindikasikan kesadaran mistis secara personal. Pertama, pengalaman spiritual tersebut sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata karena kata-kata bersifat terbatas. Kedua, Kesadaran spiritual tersebut menimbulkan pencerahan akan adanya Yang Maha Kuasa. Ketiga, hal tersebut terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Keempat, adanya kepasifan total yang diawali dengan perasaan tertentu yang meredakan segala hasrat dan diakhiri dengan suatu daya yang luar biasa. (William James, The Varieties of Religious Experience, Bandung: Mizan 2004, hlm. 24)

Perdebatan mengenai spirituality within religion dan spirituality without religion terus berlanjut apabila kita tidak mencari benang merah di antara keduanya. Agama lahir sebagai sebuah ekspresi dari hubungan manusia dengan Tuhan. Selain itu keberadaan agama tidak terlepas dari kehadiran tradisi. Akan tetapi, perlu ditekankan tradisi yang dimaksud di sini adalah tradisi yang transenden (origin tradition). Baik manusia melalui agama, maupun tanpa agama memiliki tujuan yang sama yakni menuju Ilahi melalui jalan spiritualitas. Oleh karena itu, pembahasan mengenai tradisi, agama, dan spiritualitas patut diketengahkan untuk mencari titik temu diantara keduanya.

Sayyed Hossein Nasr mengklasifikasikan tradisi kedalam dua bagian, yakni Beyond Religion dan Within Religion. Divine dalam al-A’yan ats-Tsabitah sudah terdapat tradisi (principles). Agama dalam hal ini mengikat tradisi Ilahi agar tidak terjadi chaos. Aplikasi tradisi dari Tradisi Ilahi (through religion) ialah pada ritual-ritual, kebudayaan, etnik dan perbuatan. Namun, perlu digarisbawahi bahwa agama yang dimaksud bukan agama secara historis melainkan agama di sisi-sisi Allah. Dalam hal ini, baik beyond religion dan within religion mengantarkan kita pada jalan spiritual menuju Ilahi. Jadi, mengapa masih terjebak pada kebingungan memilih antara spirituality within religion dan spirituality without religion?

Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: