//
you're reading...
Edisi Januari 2009: Wajah Spiritualitas di Sekitar Kita, Utama

Spiritualisme Melenggang Tanpa Sungkan


By Rika Febriyani
Meditasi, yoga, chakra, reiki tantra, kundalini, tarian sufi ala Jalaluddin Rumy, adalah metode yang sedang ramai ditawarkan untuk menuju titik spiritualitas. Macam-macam aliran bisa dipilih: Anand Ashram, Brahma Kumaris, New Age, Metafisika Study Club, atau Tarekat Naqsabandiyah Haqqani. Sebuah aliran bisa menempuh satu atau dua metode, ada pula yang mencampur semua metode, seperti dilakukan Anand Ashram.

Spiritualitas bukan barang langka di perkotaan. Para pencarinya tak perlu menjelajah sampai ke tempat terpencil. Ia dihadirkan seperti kursus bahasa atau menjahit, dikemas dalam paket ala rumah makan siap saji. Tak ada paksaan dan ikatan. Para pencari spiritual bebas memilih salah satu, baik aliran dan metode. Tak ada sanksi jika beralih dari satu aliran ke aliran lain. Mereka bisa mencocokkan mana yang sesuai dengan kebutuhan dan budget di kantong.

Tapi, ada biaya yang menjadi pagar bagi para pencari spiritualitas. Misalnya, Rumi Café yang didirikan oleh Tarekat Naqsabandiyah Haqqani, mematok satu paket untuk sepuluh kali pertemuan dengan biaya Rp 60 ribu per pertemuan. Anand Ashram menawarkan paket stress management seharga Rp 500 ribu untuk lima kali pertemuan dan paket sufi (meditasi dan menari berputar) seharga Rp 400 ribu. Meski terbilang ‘lumayan’ mahal, paket-paket ini tak sepi peminat. Ada tempat pelatihan Yoga sampai menolak peminat yang dibebani biaya Rp 100 ribu per pertemuan (Gatra : Meditasi – Revolusi Dalam Diam). Satu kebutuhan telah hadir.

Agama Yang Tak Cukup
Mudji Sutrisno, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkarya, mengatakan bahwa gerakan semacam ini merupakan tanda masyarakat sudah jenuh dengan agamanya. Agama dipandang sebagai sesuatu yang sudah terbukti tak mampu membuat keadaan lebih baik. Masyarakat tengah disadarkan kalau doktrin dan aturan dalam beragama cenderung menciptakan sekat yang berujung pada perpecahan.

Sedangkan spiritualitas disinyalir sebagai kegiatan lintas agama. Ia tak mempermasalahkan kebenaran sebuah agama, melainkan seberapa dekat perjalanan seseorang kepada kebenaran. Kebenaran itu adalah yang bersumber pada Ilahi, pendekatannya bukan dengan akal atau teks melainkan dengan hati.

Menggunakan hati memang sudah lama ditinggalkan masyarakat kota. Industri dan modernitas memacu kehidupan manusia kota dengan bergantung pada rasio sepenuhnya. Agama juga dipahami sebatas teks. Beribadah hanya sebatas formalitas, kewajiban, ganjaran akan kebajikan, tanpa menyentuh makna di baliknya. Seperti dikutip dari perbincangan di milis wanita-muslimah, “Menurut saya agama (shalat) dan yoga (spiritualitas) bisa saling melengkapi. Banyak orang yang sholat hanya sekedar ritual, kebiasaan, tapi jiwanya entah ke mana. Yoga, meditasi adalah sarana untuk mencapai kualitas shalat agar serasa dekat dengan Allah SWT”. (L.Meilany / wanita -muslimah@yahoogroups.com)

Mereka yang beralih pada spiritualitas didorong oleh kejenuhan atas rasio dan teks, menyadari adanya indera hati yang tak punya tempat dalam dunia modern. Kegiatan spiritualitas yang menjamur belakangan ini, telah mengisi kekosongan yang tak ditemui dalam beragama dan modernitas. Seperti dikutip dari wawancara dengan Saraswati Sastrosatomo, 36 tahun, Senior Council Chevron Indonesia Company, jemaah tarekat Qadiriyah di kawasan Ciawi, Bogor. ”Saya butuh charge setelah Senin hingga Jumat berurusan dengan dunia”. (Tempo : Sufi Kota )

Spritualitas ≠ Spiritualisme
“Spiritualitas adalah jalan yang serius” begitu kata M. Bagir, pengajar Mistisisme Islam di Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta. Melanjutkan pernyataan itu, Bagir menerangkan bahwa spiritualitas bukan jalan yang harus dibuka untuk semua orang. “Tak semua orang mendapat aspirasi untuk meleburkan diri dengan Tuhan. Ada orang-orang yang merasa cukup dengan fikih, itu bukan masalah. Bukan hendak mengeksklusifkan spiritualitas, tapi memang butuh kesiapan untuk jalan ini.”

Spiritualitas bukan jawaban bagi orang-orang yang jenuh sehingga ingin ‘lari’ dari keseharian. “Spiritualitas bukan tempat pelarian. Kalau punya masalah seperti itu, pergi ke psikolog dong. Itu, kan masalah kejiwaan”

Jalan spiritualis memiliki tahap-tahap hingga sampai titik peleburan dengan Tuhan. Waktu yang dibutuhkan bergantung pada kondisi mental dan kesiapan seseorang. Karena itu, jalan ini tak bisa dipaketkan, seperti terjadi di berbagai tempat sekarang. Ketika nilai modern masuk ke dalam spiritualitas, terjadilah pereduksian makna. Spiritualitas menjadi barang dagangan, bisa diproduksi massal dengan memperbanyak pengikut. “Spiritualitas menjadi spiritualisme!” Tegas Bagir.

Spiritualitas Sebuah Pilihan?
“Saya sudah bosan dengan berbagai ritual agama yang saya anut, yang menurut saya semakin berbelit dan menjadi tidak bermakna. Saya mencari sesuatu yang lebih dari itu.” demikian kata Anto yang aktif di sebuah kelompok spiritual.

Jalan buntu dalam beragama dan modernitas menggugah orang untuk kembali mempertimbangkan spiritualitas. Tapi, melihat berbagai paket spiritualitas dari banyak aliran, kecenderungan untuk menjadi sebuah peluang bisnis tak bisa dipungkiri. Spiritualitas, atau spiritualisme ini, bisa jadi tak lagi mempermasalahkan tujuan kesatuan dengan Tuhan atau Yang Hakiki. Yang jadi tujuan adalah memberi ‘damai’ kepada mereka yang telah membayar biaya paket-paket spiritual.

Menimbang apa yang dikatakan Bagir saat menanggapi riuhnya bisnis spiritualitas ini, bahwa tak semua orang bisa mendapat aspirasi untuk menempuh jalan spiritualitas, maka spiritualitas jelas bukan sebuah pilihan. Tapi kalangan lain, seperti John Naisbitt dan P. Aburdene, meyakini spiritualitas sebagai sebuah kecenderungan yang tak bisa dihindari untuk menjadi agama baru (New Age). Abdul Munir Mulkhan pun meyakini spiritualitas sebagai jalan keluar berbagai perpecahan dan konflik, karena sifat spiritualitas yang mampu melampaui berbagai perbedaan pada manusia.

Mana yang benar? Apa yang dikatakan John Naisbitt, P. Aburdene, dan Abdul Munir Mulkhan bisa saja terjadi kalau desakan masyarakat pada spiritualitas meningkat dan ada sebuah kesempatan yang terbuka bagi semua kalangan. Spiritualitas, atau spiritualisme menurut Bagir, akan menjadi sesuatu yang dianut. Seperti terjadi di Amerika dan Eropa dalam pengamatan John Naisbitt (Megatrends 2000). “Sebagian besar warga Amerika dan Eropa, ribuan orang tengah mencari pencerahan dan menginginkan pertumbuhan mental secara pribadi lewat buku-buku metafisika yang bisa diperoleh di toko-toko, atau guru-guru spiritual yang ada di pertemuan-pertemuan non formal”. (Rika)

Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: