//
you're reading...
Edisi Januari 2009: Wajah Spiritualitas di Sekitar Kita, Refleksi

Ruang-ruang Spiritual


By Khayun Ahmad Noer
Pengalaman spiritual bisa terjadi kapan dan di manapun, pada setiap individu. Siapapun memiliki peluang untuk menemui pengalaman yang konon begitu luar biasa dan membahagiakan itu. Pengalaman ini tidak hanya bisa dijumpaii di tempat-tempat suci macam masjid atau mushala-mushala. Tidak hanya di gereja-gereja, di mana setiap saat manusia-manusia melantunkan doa pada Tuhan dan Yesus sang Penebus. Juka bukan hanya di pura-pura, atau di depan altar pemujaan dewa-dewi manifestasi sang Hyang Widi Wasa.

Pengalaman ini juga bukan hanya didapati oleh mereka yang dengan khusuk berdzikir dan shalat di tengah malam hari. Oleh mereka setiap hari yang mengenang dan mengamalkan keteladanan Yesus. Bukan hanya oleh mereka yang duduk tenang bermeditasi melepaskan segalanya pada kekosongan. Pengalaman ini sekali lagi dapat saja dimiliki oleh siapapun dan bisa dalam kondisi apapun.

Bukankan seorang Danarto, pernah mengalami pengalaman spiritual ketika tidak sedang dalam kekhidmatan ritual-ritual yang biasa dipraktikkan mereka yang mendamba spiritualitas. Bahkan mistikus sastra ini baru membuka mata dari tidur lelapnya. Yang lantas disuguhi pemandangan yang tak pernah terjangkau oleh indera dan akal, “semuanya yang Tuhan”.
Dengan begitu, pengalaman ini akan baru didapatkan ketika kita menjadi salah satu orang yang benar-benar beruntung. Tuhan yang menentukannya. “Beliau” yang menentukan setiap orang untuk mengalami pengalaman yang melampaui nalar dan pencerapan inderawi ini. Hanya oleh kehendak-Nya-lah, Danarto yang seorang dekorator, aku yang seorang pelajar, dia yang seorang pegawai negeri, dia yang petani, dia yang pedagang, dapat menemui pengalaman spiritual ini.

Sayangnya, siapa yang dapat dipercaya atau mempercayai bahwa itu pengalaman spiritual yang benar? Ini tentang pengalaman yang benar-benar individual.

Tapi sebelumnya, kita lihat dulu mengapa setiap orang begitu mendamba pengalaman ini? Hal ini berangkat dari kebutuhan kita sebagai manusia. Hidup manusia memang dipenuhi dengan kebutuhan-kebuutuhan yang tiada berhenti. Begitu kompleks, karena manusia memiliki aspek jasmani dan rohani yang sama-sama harus dicukupi. Sayangnya manusia tak selalu dapat memperlakukan dua aspek ini dengan seimbang. Kadang aspek fisiknya lebih ditekankan, atau sebaliknya.

Banyak contoh kasus yang memperlihatkan ini, dan menunjukkan beberapa ketimpatangan dalam diri individu dan sosial kemasyarakatan. Ketika pemenuhan kebutuhan fisik (duniawi) ditekankan maka permasalahan individu pada pendasaran tujuan hidupnya kerap mengalami permasalahan. Ketakbermaknaan hidup seringkali mendera, karena apa yang dilakukan dan apa yang dituju sang individu terkukung pada keterbatasan ruang dan waktu, yang setiap saat bisa hancur dan hilang. Begitupun jika manusia lebih mementingkan aspek ruhani dalam dirinya saja. Entah sudah ribuan bahkan jutaan orang mengalami kegagalan dalam menyelasaikan kewajiban sejarahnya sebagai manusia gara-gara hal ini. Seperti sesuatu yang menerima dosa warisan, ketika kita menghubungkan orang-orang dengan sufi atau tasawuf. Mereka yang hidup dalam jalan spiritualitas, akan begitu mudah dilabeli sebagai orang-orang penyendiri, tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan masyarakat. Hal ini terjadi karena seringnya orang condong pada kehidupan ruhaninya saja dan melupakan aspek jasmani dari mereka. Termasuk berelasi satu sama lain dalam kehidupan bermasyarakat.

Kembali pada pertanyaan di atas, tentang orientasi manusia pada pengalaman ini, paling tidak motif tujuan mereka karena adanya unsur pemenuhan kebutuhan itu. Seperti halnya tubuh lelah yang membutuhkan saripati makanan untuk kembali segar, jiwa pun setiap saat memerlukan asupan energi, boleh disebut sebagai kebahagiaan. Karena gagasan umum yang muncul ketika membahas spiritualitas adalah hal ini. Mungkin juga ketenangan, seperti halnya yang kini lazim ada di masyarakat Barat dengan praktik-praktik ritual tertentu, yang oleh Capra di sebut eksoteris mysticism atau aspek-aspek luar spiritualism. Tarian mistik, yoga, atau tai chi misalnya.

Setiap orang dapat saja mengalami pengalaman spiritual, yakni pengalaman batiniah. Dan karena ruang lingkupnya begitu individual, secara teori, maka setiap orang dapat dengan mengklaim pengalaman ini. Dan menyatakan hal itu benar. Namun, atas dasar apa hal itu dapat dibenarkan atau disalahkan, toh itu pengalaman yang sangat personal. Dan andai diyakini bahwa dasar itu benar atau salah, karena terhubung dengan realitas Tuhan, lalu siapa yang akan menjamin pengalaman itu memang benar dari Tuhan?

Mungkin kita ingat beberapa kasus seperti Lia Aminudin dan Ahmad Musadeq. Mereka mengaku mengalami sebuah peristiwa spiritual tertentu yang kemudian dijadikan dasar aktivitas religius mereka. Atau juga misalnya, seperti yang dinyatakan James tentang pendiri agama Quaker, George Fox yang mendapatkan pengalaman spiritual yang begitu aneh ketika mengunjungi kota Lichfield. “Jalan-jalan di kota ini dipenuhi genangan darah” Katanya. Pengalaman yang bagi James nampak begitu dekat dengan gejala psikopat atau detraque (James, Perjumpaan dengan Tuhan, 2004). Siapa yang dapat membuktikan pengalaman ini benar atau salah?

Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: