//
you're reading...
Edisi Januari 2009: Wajah Spiritualitas di Sekitar Kita, Opini

Pergeseran Spiritualitas


By Ali Zaenal Abidin
Di era modern dampak dan pengaruh kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, dan industri, ternyata begitu besar. Teknologi khususnya, sudah menjadi ‘kebutuhan pokok’ yang hampir tak terpisahkan dari individu-individu. Mulai dari lapisan berekonomi bawah hingga lapisan atas. Efek kemajuan pun masuk jauh dalam kehidupan umat manusia. Bisa dipastikan hanya segelintir kecil orang saja yang belum dapat mengakses dan memanfaatkan teknologi. Biasanya mereka yang tinggal di pelosok, jauh dari hiruk-pikuk aktivitas di perkotaan.
Orang tidak akan bisa gagal melihat manfaat dari teknologi yang memang secara realitas sangat berguna bagi manusia. Lebih dari itu, teknologi sudah menjadi keperluan pokok dan manusia bergantung kepadanya. Namun, dengan segala kenyamanan dan kepraktisan teknologi yang sangat memanjakan penggunanya. Manusia menjadi terlena, terbuai kelebihan teknologi hingga spiritualitas mereka seakan tertutup. Belum lagi jika kita membicarakan ilmu pengetahuan yang oleh banyak cendekiawan ditarik dan digiring menjadi sesuatu yang disembah menggantikan Tuhan. Demikianlah faktor penutup pintu spiritualitas semakin kompleks.
Paradigma yang mereka (para cendekiawan) ciptakan dan sampaikan, bahwa sesuatu dapat diterima dan dipercaya bila dapat dibuktikan secara saintifik, terbukti banyak mempengaruhi orang. Mereka yang beragama mulai ragu dengan kepercayaannya. Agama yang notabene bersifat ilahi seakan harus dievaluasi ulang agar sesuai dengan sains. Dan nahasnya, banyak orang terjebak oleh penggiringan cendekiawan-cedekiawan ini. Dan usaha mereka untuk mengantarkan agama pada sains yang memastikan segala hal dibuktikan secara empiris berujung pada kegagalan. Dengan demikian, ajaran-ajaran agama dan kitab suci kemudian tergantikan dominasinya oleh ilmu pengetahuan (sains).
Dua elemen di atas, yakni teknologi dan ilmu pengetahuan (sains) merupakan faktor penting dalam menggeser dominasi spiritualitas. Meskipun spiritualitas tidak dapat dihilangkan dari dalam diri setiap manusia. Namun, pemberian porsi yang tidak seimbang akan menjadikannya semakin meredup.
Sebagaimana diketahui bahwa manusia adalah makhluk dua dimensi. Dimensi ruhani dan dimensi jasmani. Keduanya haruslah diperhatikan dan diperlakukan secara seimbang. Dan dalam kasus di atas, spiritualitas yang notabene bersifat ruhani tidak diperlakukan secara seimbang. Oleh karena itu, tak heran jika dimensi ini tertutup oleh dimensi jasmani yang lebih mendominasi.
Spiritualitas bisa juga dikatakan sebagai potensi yang tidak akan aktual ketika tidak diaktualkan. Dan tentulah proses pengaktualannya melazimkan adanya relasi dengan hal-hal yang terkait dengan dimensi ruhani. Sedangkan pengutamaan pada faktor-faktor yang terkait erat dengan keduniawian, akan berdampak pada terhambatnya proses pengaktualan spiritualitas.
Berangkat dari sini, maka tak heran jika beberapa tahun belakangan agama mulai tersingkir dari kehidupan manusia. Namun agaknya hal ini tidak bertahan lama. Kenyamanan yang ditawarkan dunia lewat teknologi dan sains pada titik klimkasnya mengantarkan orang pada sikap yang gamang. Gamang akan makna dan hasil yang hendak dicapai oleh keduanya (teknologi dan sains). Memunculkan krisis yang sekarang mendera masyarakat postmodern. Nyatanya, walaupun masyarakat merasa nyaman dan dimanjakan oleh teknologi dan sains, tetap saja terasa ada sesuatu yang kurang. Kesadaran akan sesuatu yang kurang ini, didentifikasinya sebagai problem dalam jiwa dengan hati sebagai pusatnya.
Untuk itu, wajar jika sekarang kita menemukan banyak orang mencari jalan keluar masalah ini. Melalui dzikir bersama, tareqat sufi, atau pun yoga dan lainnya. Kesemuanya berkaitan erat dengan penumbuhan dan peningkatan rasa spiritualitas seseorang. Mereka menganggap itu semua sebagai jalan keluar dan solusi bagi permasalahan yang mereka rasakan.
Dengan demikian, pada saat ini situasinya sedang berbalik. Dari yang sebelumnya terlampau fokus pada hal-hal keduniawian, sekarang beralih pada hal-hal yang terkait dengan spiritual. Entah proses pencapaiannya melalui agama atau bukan.
Akhirnya, perasaan ketidakpuasan atau juga frustasi pada kehidupan yang melulu materialis menjadi penyebab orang mulai mencari dan melirik dimensi spiritualitas. Nilai-nilai spiritual yang sempat tergeserkan kini mulai kembali lagi.

Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: