//
you're reading...
Edisi Januari 2009: Wajah Spiritualitas di Sekitar Kita, Utama

Menonton Mereka, Menatap Kita


By Rika Febriyani
Menonton Islam dalam film masih belum menjadi keseharian. Bioskop kita telah lama didominasi produk Hollywood. Sekarang, saat kebangkitan film Indonesia kembali, justru genre komedi cinta dan seks merajai bioskop. Padahal 80% penduduk Indonesia adalah umat Islam. Mungkin ini yang membuat masyarakat berjarak dengan adegan sholat, zikir, atau jilbab, sekaligus jadi mudah melabel ‘Islami’ pada film yang memuat praktik keislaman.

Beruntung, Jakarta masih punya Jiffest (Jakarta International Film Festival) sebagai perhelatan terbesarnya. Teristimewa, Jiffest 2008 dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kali itu ditayangkan banyak film yang membuat khalayak lelap menonton kenyataan umat beragama.

Setidaknya ada tujuh film yang dapat dirangkai. Mereka bicara tentang Islam, juga fundamentalisme yang tak hanya milik Islam. Semua akan dicuplik untuk menyertai tulisan ini.

Menonton film Song Of Sparrow adalah menatap Islam sebagai sebuah keseharian. Tokoh utama tak pernah lalai dari sholat lima waktu, cinta istri dan anak, serta tak bernafsu pada barang mewah. Hidup di tengah umat Islam (Iran), tapi tak ada penyebutan asma Allah dengan berlebihan untuk menunjukkan identitas. Saat si tokoh mengambil kesempatan untuk berbuat dosa, kesan yang terangkat adalah kemakluman dan manusiawi. Tak juga ada adegan menyesal yang gamblang.

Song Of Sparrow memaparkan kenyataan hidup manusia sebagai tempat kebaikan dan kesalahan berdampingan dengan tak memojokkan salah satu di antaranya. Islam diperlihatkan sebagai bukan sesuatu yang kudus sehingga umatnya tak punya risiko untuk selalu benar. Dengan nuansa serupa, film Times and Winds ingin menunjuk bahwa menjadi pengurus masjid, meneriakkan adzan, dan imam, tak mesti membuat seseorang layak dicintai.

Times and Winds berlatar kehidupan muslim Turki pedesaan, miskin, dan disibukkan konflik rumah tangga. Berkisah hubungan anak dan ayah yang buruk. Si anak, Omer, sengaja membuka jendela di malam hari, mengukur kekuatan kalajengking penggigit manusia dan melakukan cara lain untuk mematikan si ayah. Tapi, Omer bukan tokoh antagonis. Ia menderita karena diperlakukan seperti pesuruh dan pilih kasih. Sebaliknya bagi si ayah, Omer tak cerdas, tak membanggakan, dan perlu dididik keras.

Tersirat upaya Song Of Sparrow dan Times and Winds untuk menggugah kesadaran umat Islam kalau mereka bukan yang terbaik. Bukan teristimewa dari pada umat beragama lainnya, melainkan sejajar saja sebagai sesama manusia di dunia. Manusia yang tak alpa dari kedua sisi, baik dan buruk, tak peduli ia adalah umat Islam atau bukan.

Berikutnya adalah film Takva dan Worlds Apart. Takva meraih banyak penghargaan internasional. Agaknya, film ini digemari karena berani menegaskan perlunya kebebasan berpikir dalam beragama. Bersikap kritis dan menghindari taklid buta menjadi jawaban keselamatan umat beragama yang tak tersurat di sini.

Tokoh utama dalam Takva adalah pria muslim taat beribadah yang dipertemukan dengan kenyataan di lingkungan baru. Ia tak bisa menghindar kalau hatinya mengatakan dunia berjalan tanpa campur tangan Tuhan. Ia ingin tak menuduh Tuhan, tapi terjepit oleh pikirannya sendiri kalau Tuhan telah membiarkan banyak pelanggaran terjadi. Ia takut menganggap Tuhan tak taat asas, padahal itu kenyataan yang dilihatnya.

Sedangkan Worlds Apart, diangkat dari kisah nyata, keraguan seorang pengikut sekte Jehovah saat tak bisa berkelit dari kenyataan yang seharusnya dihindari. Jehovah adalah murid Yesus yang meriwayatkan ketentuan (semacam fikih). Ketentuan ini sangat berbeda dari ajaran Kristen pada umumnya, misalnya tak boleh ada perayaan natal, tahun baru dan ulang tahun. Mereka juga hanya bergaul dan menikah dengan sesama, sebab orang di luar Jehovah dianggap barang najis.

Film-film ini mungkin akan dicibir sebagian kalangan sebagai propaganda pemikiran liberal. Bahwa Jiffest seolah hendak menampilkan fenomena yang mendesakkan sebuah perubahan sebab dunia sudah jelas tak berhenti, tak seperti perilaku beragama dengan sumber-sumber keadaan masa lampau. Bisa saja memang demikian. Tapi film-film ini juga bersanding dengan kenyataan lain ‘yang lebih nyata’ sebab ditampilkan dalam bentuk dokumenter.

The Convert adalah film dokumenter tentang keseharian penganut Buddha yang meninggalkan Buddha, memakai jilbab dan menjalani ketentuan Islam. Menjadi muallaf. Ia yang masih polos, jadi mudah geram jika ada umat Islam yang dilihatnya melanggar ketentuan Islam. Toh, waktu kemudian ‘membesarkannya’ sebagai umat Islam. Donkey In Lahore, juga berkisah tentang muallaf dari Australia. Sebuah usaha bersabar dalam menghadapi perbedaan nilai agama dan budaya antara Barat dan Timur.

Tak ada kata untuk mengatakan agama tak selalu benar atau lebih baik menjadi tak beragama. Ini adalah penegasan etos untuk selalu mencari kebenaran dan mempertanyakan kebenaran yang sedang berlangsung. Ada yang merasa harus pergi dan ada yang merasa harus mendatangi agama. Manusia memang tak mesti tinggal di satu tempat sebab akal selalu menggiring manusia untuk mengkritisi dan menggali keadaan sekitar, kecuali jika hendak sengaja menyiakannya.

Kehadiran film Eve and The Fire House seperti menjadi kesimpulan. Sebuah film fiksi tentang keluarga etnis Cina penganut Buddha yang tinggal di Amerika. Di sekolah, anak-anak mereka dituntut belajar tentang Yesus dan berdoa di gereja. Tapi, tradisi keluarga turun temurun mendidik mereka membungkuk dan meletakkan dupa di hadapan Buddha. Akibatnya, Buddha dan Yesus bukan dua kutub. Patung Yesus diletakan bersama patung Buddha dan dewa-dewi legenda Cina. Mimpi anak mereka mewujud pada adegan Yesus dan Buddha berdansa. Waktu mengasah keyakinan dan pertentangan Kristen – Buddha, yang beralih menjadi Kristen un sich dan ateis harus tetap menjadi bagian keluarga.

Bukan soal menjadi penengah, atau condong pada pemikiran liberal. Tapi inilah dunia, seperti Indonesia yang ditakdirkan menjadi bangsa majemuk. ‘Yang lain’ selain kita akan selalu ada, seperti tak terhindarnya macam-macam suku, ras, dan bahasa. Dan karena itu, tak seorang pun bisa menjadi fundamentalis. ***

Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: