//
you're reading...
Edisi Januari 2009: Wajah Spiritualitas di Sekitar Kita, Kampus

Diskusi Bersama Mr. Mohaddes


By Nur Izzatunnisa
Akhir bulan Desember 2008, tepatnya tanggal 25, ICAS mengadakan perjalanan ke puncak yang di ikuti beberapa dosen, staf, juga sebagian mahasiswa. Dengan tujuan diskusi santai yang akan dijadikan profil ICAS. Selain juga menikmati keindahan alam puncak yang terkenal akan pesonanya itu.

Kerena salah satu agenda acara di puncak ini untuk membuat profil ICAS, terpaksa dalam diskusi-diskusi yang dilakukan, mata kamera selalu aktif memandangi kami. Meski sedikit mengganggu, tapi kami tidak mempersoalkan hal itu. Diskusi tetap berjalan dengan baik dan menarik. Banyak hal yang kami dapatkan, dari tema-tema yang berkaitan dengan Tuhan dan alam sekitar.

Terlebih lagi, situasi menyenangkan itu didukung suasan villa yang begitu nyaman, indah, luas, dan menarik. Fasilitasnya pun komplit, layaknya sebuah hotel berbintang. Dengan jamuan yang begitu baik. Kami diperlakukan sebagai tamu kehormatan oleh tuan rumah yang tidak lain adalah salah seorang lulusan ICAS, namanya Bu Wardah.

Kala adzan magrib tiba, semua berkumpul untuk bersiap menunaikan shalat berjamaah yang dipimpin Mr. Mohaddes. Setelah shalat selesai, beliau dan Mr. Rasul memberikan tausiyah pada kami, berkenaan dengan arti penting shalat dan keutamaan berfikir akan keagungan Allah. Salah satu pertanyaan Mr. Rasul yang diajukan pada kami menjadi perhatian setelah itu dilontarkan. Dari sebuah hadis tentang keutamaan orang-orang yang berfikir dibandingkan dengan mereka yang beribadah selama 70 tahun. Kami menjawab pertanyaan itu dengan beragam jawaban, sesuai batas akal kami memahami persoalan itu. Terasa membekas dibenak, dan berualang kali hadir dalam pikiran sampai kami makan malam.
Diskusi pertama dilakukan di dalam villa, selepas makan bersama. Awalnya kami ingin mengadakannya di luar, di bawah langit yang menaungi alam pegunungan puncak. Sayangnya, hujan deras mengguyur tanah malam itu, kami urungkan rencana itu. Meski diselimuti udara dingin puncak, diskusi dengan tema shalat dan hubungan manusia dengan Allah tetap berjalan dengan seru. Diskusi sendiri berlangsung hingga pukul 22:00 WIB. Diskusi yang masih dipandu Mr. Mohaddes dan Mr. Rasul membahas spiritualitas manusia dalam mendekatkan diri pada Allah melalui shalat. Mengenai peranan shalat, yang selain sebagai sarana mengingatkan manusia pada Tuhannya, juga sebagai sebuah jalan pengingat yang menggugah kesadaran pada kasih dan keagungan-Nya. Melalui shalat dapat terus berfikir dan bersyukur bahwa segala yang ada berasal dari yang satu, Tuhan.
Paginya, setelah sholat subuh kami berjalan-jalan pagi untuk melihat keindahan puncak yang sangat menakjubkan. Diselimuti udara yang dingin, kami dapat menyapa lembutnya kehadiran Tuhan dan cantiknya alam yang Allah ciptakan. Sekitar jam 08:00 pagi kami memulai berdiskusi kembali, di tengah kebun yang luas. Kali ini diskusi dipandu oleh tuan rumah, Ibu Wardah al-Katiri. Beliau menguraikan hubungan antara ekologi dan Islam. Dengan kelembutan alam yang sangat kita rasakan, Ibu Wardah membicarakan tentang ekologi, yang pembahasannya berkaitan dengan tesis dan yayasan AMANI yang ia bangun. Yayasan tersebut konsen pada lingkungan alam semesta yang sehat dengan cara melindungi alam sekitar dan menanam tanaman organik.. Banyak hal yang menarik dari pemaparan Ibu Wardah, yakni pentingnya mengetahui hubungan antara Allah sebagai pencipta dan alam sebagai yang dicipta. Sebagai umat Islam kita harus berpikir tentang ayat-ayat Allah, melalui ayat kauliyah (al-Quran) dan ayat kauniyah (alam semesta). Diskusi bersama Ibu Wardah semakin menarik ketika kami diajak berkeliling di kebun sayuran organik. Ibu Wardah berusaha menjelaskan semua manfaat besar yang kita peroleh dari tanaman organik tersebut. Sebelum mengelilingi perkebunan kami sempat berfoto bersama dengan membawa spanduk ICAS.
Rupanya diskusi dengan Ibu Wardah adalah kegiatan terakhir kami di sana. Setelah diskusi selesai, rombongan mengadakan sholat dhuhur jamaah, dilanjutkan makan siang. Kemudian bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Siang itu kami meninggalkan keindahan alam puncak, dan kembali ke Jakarta.

Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

One thought on “Diskusi Bersama Mr. Mohaddes

  1. Tafsir Isyâri (tafsir esoteris) menurut Ibnu Arabi dan Mulla Sadra
    Salman Fadhlullah

    Mukadimah

    Thâhâ Husayn (1889-1973) mengingatkan keistimewaan al-Quran—yang non puisi dan juga non-prosa—Al-Quran tidak bisa bisa disebut dengan nama appaun. al-Quran adalah kitab yang sangat sempurna yang datang dari Yang Mahabijak dan Maha memiliki pengetahuan.
    Yang jarang dan bahkan mungkin tidak pernah dijadikan isu baik teologis,ontologis dan epistemologis adalah apakah kegiatan menafsirkan al-Quran itu? Mengapa menafsirkan al-Quran, dan ada apa dengan tafsiran al-quran? saya tidak ingin membawa isu-isu itu pada ranah hermeneutika, tapi saya ingin menjadikan itu sebagai pengantar bagi diskusi kita tentang tafsiran isyari, menyibak rahasia-rahasia ayat-ayat al-Quran; Saya lebih suka dengan mukadimah yang menusuk kepada jantung permasalah, sebab al-Quran sekarang telah ditafsirkan dengan berbagai tafsiran—bahkan ketingkat yang mengkhawatirkan dan juga membahayakan ajaran islam itu sendiri—.
    Apresisasi kaum muslimin dari beberbagai kalangan terhadap al-Quran menunjukkan bahwa al-Quran—baik disadari atau tidak—adalah bagian dari kekuatan kudus. Tetapi tentu saja tidak semua tafsiran atas al-Quran bisa dibenarkan kita harus mendudukan hirarki tafsiran dari yang termulia sampai yang terburuk dan terjahat dari al-Quran. Upaya penafsiran al-Quran tidak hanya mengandalkan rasio de etre dari para aktifitas Islam tapi juga yang lebih penting adalah proses penafsiran itu bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah (islami) atau tidak?
    Setiap orang membutuhkan petunjuk. alif lammim dzalikal kitâbu lâ rayba fihi hudan lil mutaqîn! Setiap orang membutuhkan petunjuk al-Quran namun, jarang sekali yang berjalan melalui proses yang alamiah dan ilmiah. al-Quran mengatakan : hal yastawiladzina ya’lamu walladzian la ya’lamuna?Apakah sama orang yang mengetahui dan mereka yang tidak mengetahui? ” Namun di sini perlu mendapatkan perhatian penuh bahwa ikhtiyar jenis tafsir bukanlah karena paradigma—yang kadang-kadang membelenggu seorang penafsir atau orang yang belajar tentang tafsir—tapi lebih karena cahaya ilmu. Dengan demikian pilihan untuk mempelajari tafsiran isyari bukanlah karena pergeseran paradima (paradigm shift) dari literalis (zahiri) menjadi esoteris (maknawi) atau dari esoteris menjadi tafsiran eksoteris dan esoteris (tafsir zahir wal batin) juga bukan karena semata-mata perubahan selera (taste) namun lantaran ilmu. Bahwa dalam islam pengetahuan tidak hanya terbatas pada yang lahiriyah namun juga batiniyah , intuitif, mental, cognitif, dan lebih jauh lagi adalah penyaksian batin (kasyaf). Pengetahuan tidak hanya didapat lewat penyimpulan nalar tapi juga lewat pengalaman (religious experience), dan juga lewat pembersihan diri (tazkiyatun nafs).
    Secara sederhana mazhab-mazhab mufasir al-Quran bisa diklasifikasikan dalam pembabakan sebagai berikut : pertama yang ahli literalis (mungkin diwakil oleh wahabi baik moderat maupun radikal) yang terikat dengan aspek lahiriyah dari al-Quran itu sendiri yaitu teks, termasuk teks ini adalah juga makna metaforis, mazaj, isti’arah, dsb. Analisis atas pelbagai kecenderungan studi al-Quran digagas secara sistematis oleh Ignaz Goldhiher. Dalam magnum opusnya tentang madzab-mazhab tafsir, ia membagi studi tafsir dari era klasik hingga modern menjadi studi al-Quran tradisionalis, studi al-quran dogmatik, mistik, sektarian dan modern

    Menghadirkan gagasan Ibnu Arabi dan Mulla Sadra dalam kontek ayat-ayat al-Quran merupakan kajian baru dan menarik karena sementara ini kedua pemikiran besar Islam, dan sekaligus mistikus ini masih jarang diapresiasi karya-karya mereka dalam tataran teks-teks Ilahi seperti al-Quran—sebagian besar apresiasi para peneliti masih sering dipusatkan pada studi-studi doktrin-doktrin metafisik atau teologi. Kedua dilihat dari kualitas dan kuantitas. Tafsir mereka berdua didasarkan pada sebuah teori yang utuh dan kuat dan memiliki basis dari sumber-sumber ajaran Islam. Yang kedua juga dari kekayaan literatur dan kemudahan mendapatkan kitab-kitab mereka. Mulla Shadra misalnya memiliki kajian tersendiri dalam kitab seperti Mafâtîh al-Ghayb yaitu pengantar untuk memahami sisi batin al-Quran, juga delapan jilid tafsir filosofis dan irfani dan beberapa kitab kecil tentang rahasia ayat-ayat dan kritikan untuk pseudo-sufism. Seperti kita ketahui bahwa tafsir Mulla Sadra adalah perpanjangan dari filsafat Hikmah Muta’aliyahnya, maka demikian juga tafsir yang dinisbatkan kepada Ibnu Arabi adalah mewadahi teori-teori wahdatul wujudnya. dan seperti yang dijelaskan oleh Dr. Sulayman Atasy bahwa puncak zaman keemasan tafsir isyari terjadi di era Ibnu Arabi dan Qunawi. Banyak para penafisr besar lahir dari haribaan pengaruh ibnu Arabi seperti Kâsyânî, Simnânî dan setelah itu tafsir isyari kehilangan orisinalitasnya. Tasawuf setelah itu kembali lagi sibuk hanya seputar salat dan wirid-wirid. Daya analisisnya semakin menyusut.
    Kita ingin melihat pandangan dan sebagian tafsiran mereka berdua lewat pendekatan interpretasi ayat-ayat al-Quran. Tapi sebelum itu ada beberapa pembahasan yang akan kita lalui pertama pengetahuan kasyaf secara epistemologis dan kedua al-Quran di mata kaum arif.

    Ayat-ayat dan hadis yang menyatakan adanya pengetahuan batin (ladunî, irfan, tashawuf, mistikism)

    Allah swt berfirman wa man yu`tal hikmah faqad ûtiya khayran katsîran (siapa yang dikarunia hikmah sesungguhnya telah dikaruniai kebaikan yang sangat banyak). Ayat ini juga dengan tegas menunjukan bahwa Al-quran memberikan nilai yang positif kepada ilmu-ilmu yang tidak tersirat di dalam al-Quran seperti hikmah atau dalam bahasa sekarang sebagai divine wisdom; Huwa ladzî ba’atsa fil ummiyîna rasûlan minhum yatlu ‘alayhim âyâtihi wa yuzakkihim wa yu’alimuhum al- kitâb wal hikmah
    Atau ayat yang memberikan pujian kepada ûlul albâb: alladzina yadzkurûnallah qiyâman wa quû’dan wa ‘a’lâ junûbihim wayatafakarûna fikhalqi samâwâti wal ardhi. Ayat-ayat yang sangat populer ini mengajak orang-orang islam untuk melakukan refleksi dan mengambil hikmah dari apa saja dan bukan hanya teks-teks yang tersurat. Termasuk merenungkan kata-kata dari para kekasih-kekasih Allah (wali-wali Allah)

    wa fil ardhi ayâtun lil muqinîna wa fi anfusikum afalâ tubshirûn. (Di alam semesta terdapat ayat-ayat untuk orang-orang yang memiliki keyakinan dan apakah mereka tidak memikirkan diri mereka sendiri). Menurut ayat ini orang-orang yang memiki iman yang sangat kuat memiliki kemampuan untuk mendapatkan tanda-tanda kebenaran di dunia ini. Artinya orang yang memiliki iman yang sangat dalam bisa memiliki ilmu dari alam semesta ini. Keyakinan dan kekuatan imanlah yang ikut mencerdaskan mereka. Setelah itu Allah swt juga menyuruh manusia untuk melakukan perenungan atas diri mereka sendiri. Artinya bahkan lewat jiwa manusia ada pengetahuan yang diraih dari dalam dirinya. Ilmu pengetahuan tidak hanya dicapai dari luar tetapi jiwa ini juga mengandung sesuatu yang luarbiasa. Atau dalam bahasa populer refleksi diri, melihat ke dalam adalah jalan pengetahuan yang paling awal dan sekaligus juga paling meyakinkan sebab ia menjadi bagian dari diri seseorang— atau dalam istilah irfan disebut dengan ilmu hudhûrî

    Disini saya sengaja tidak akan mengklasifikan hadis dari berdasarkan mazhab. Saya lebih suka melihat bahwa syiah adalah sisi yang tak terlihat atau yang hilang dari mazhabnya dan suni adalah sisi yang terabaikan dari sisi syiah. Keduanya sekalipun memiliki perbedaan tapi merupakan kesatuan dari perspektif yang berbeda. Sebagian orang yang suka melihat perbedaan tentu tidak suka dengan cara pandang seperti ini- mereka mengabaikan banyaknya kesamaan dari dua mazhab ini dan terlalu memfokuskan diri terhadap perbedaan-perbedaannya.

    Imam Shadiq as berkata, Al-Quran itu memiliki aspek lahiriyah (dhahir) dan memiliki aspek batiniyah (bathin); dhahirnya memiliki hukum tertentu dan batinnya juga memiliki hukum tertentu. Ilmu pengetahun tentag aspek lahiriyah sangat elok sementara pengetahuan batinnya sangat mendalam sekali.

    Rasululullah saw berkata, ‘Kiblatku antara masyriq dan magrib.’ hadis ini menurut Sayid Haidar Amuli menjadi dalil bahwa Rasulullah menguasai semua level. Sebab yang dimaksud dengan masyriq adalah kiblat nabi Isa as dan magrib adalah kiblat nabi Musa as. dan ini adalah level yang paling agung sebab menghimpun pengetahuan esoterik dan eksoterik. dan ini sesuai dengan ayat : wa ja’alnâ kum ummatan wasathan litakûnû syuhadâ ‘ala nas (aku jadikan kalian sebagai umat washatan (umat yang menggabungkan antara eksoterik dan esoterik)
    Ali bin Abi Thalib as berkata, -Asy-syari’atu nahrun,wal haqîqat bahrun, wa al-fuqahâ hawla nahrun yathûfûna wal hukamâ fil bahri yaghûshûna (Syariat itu adalah sungai dan haqiqat itu samudera. Para fukaha berdiri di tepi sungai sementara para ahli hikmah berenang di dalam samudera.’ Aku adalah al-Quran yang berbicara dan aku adalah al-Quran yang lengkap karena menghimpun dua maqam yaitu (maqam) lahir dan (maqam) batin.

    Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasululah saw berkata jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, kalian akan sedikit tertawa dan sering menangis kalian akan keluar ke tempat-tempat yang sepi (- teks asli arabnya -lakharajtum ilâ shu’udât) dan tidak akan bisa tidur dengan tenang. hadis ini dimuat di kitab hadis Bukhari, Muslim dan juga Nasai tetapi hanya sampai redaksi kalian akan sering menangis. Menurut hadis ini bahwa ada hal-hal yang tidak diketahui oleh para sahabat dan hanya diketahui oleh Rasulullah saja—tentunya adalah seuatu yang sangat agung dan tinggi─dan itu adalah pengetahuan tentang hakikat dari segala hakikat.

    Masih dari Abu Hurairah (inna min al-‘ilmi ka hay`ati maknûn lâ ya’lamu ha illâ al’ulamâ`u billahg fa idzâ nathaqû bih lâ yunkiruhu illâ ahlu ghurrati billah aaza wajalla), yang artinya sesungguhnya sebagian ilmu itu ada yang seperti permata tersembunyi di dalam tiram, yang hanya diketahui oleh para ulama li-llah dan tidak akan menginkari pengetahuan itu kecuali orang-orang tertipu di hadapan Allah swt.
    Pengarang Qut al-Qulûb mentakhrij hadis dari Ibnu Mas’ûd Sesungguhnya al-Quran itu memiliki makna lahir dan memiliki makna batin memiliki had (batasan) dan mathla’.
    Abu Nua’im dalam kitab Hilyatul Awliyâ menukil hadis dari Ibn Mas’ud, Sesungguhnya al-Quran itu diturunkan dengan tujuh huruf dan setiap huruf itu mengandung makna lahir dan makna batin dan Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib menguasai ilmu lahir dan ilmu batin.
    Di dalam surat al-An’am, Allah swt menjelaskan bahwa mereka yang akan menerima islam adalah orang-orang yang memiliki hati yang lapang (syarh shadr). Rasulullah ditanya bagaimana seseorang bisa memiliki hati yang lapang (syarh shadr)? Rasululah menjawab, “Ada cahaya yang menyinari dadanya sehingga menjadi luas dan lapang.
    Dalam Kitab Bukhari, bab ilmu, hal 42. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra ia pernah berkata, aku mengingat hadis-hadis dari Rasulullah sebanyak dua wadah besar. Satu wadah aku sampaikan dan satu wadah lagi kalau aku sampaikan maka tenggorakanku pasti dipotong.
    Ada ayat yang berbunyi, Kami akan memperlihatkan ayat-ayat kami di afaq dan di dalam diri-diri kalian sehingga jelaskan kebenaran bagi kalian. Ayat ini dengan tegas sekali menunjukan bahwa kebenaran itu bisa ditemukan di dalam pengalaman spiritual (religious experience).

    al-Quran menurut para arif

    al-Quran secara literal artinya himpunan, kumpulan, koleksi. Sinonim al-Quran adalah al-Furqân yang artinya terpecah-pecah, terpisah-pisah atau terinci. . Allah swt berfirman :. Innâ alaynâ jam’ahu wa qur`anâhu, faidza qara`nâ fattabi` qur`anahu, tsumma alaynâ bayanahu. Sesungguhnya kami yang menghimpun al-Quran dan pabila kami bacakan al-Quran maka ikuti bacaannya dan sesungguhnya kami yang akan menjelaskannya.
    Himpunan itu adalah ilmu ijmali, akal basith, sementara Furqân adalah ilmu nafsani yang terperinci. Rasulullah dalam al-Quran menyatakan : “utîtu jawâmi’ al-Quran” (aku dikaruniai al-Quran yang sangat lengkap). al-Quran yang ada di tangan kita atau mushaf ini adalah al-Quran sekaligus juga al-Furqan. al-Quran itu adalah entitas yang sangat agung sebab datang dari Tuhan, kemudian diturunkan pada Muhammad dan kemudian diturunkan lagi kepada yang lebih rendah lagi yaitu umatnya.
    Al-Quran sekalipun sesuatu yang sangat tak terkatakan ketinggian martabatnya tapi dipersembahkan apa adanya; dibungkus dengan tirai-tirai material huruf agar bisa difahami oleh makhluknya——ini lutf Allah swt kepada hamba-hamba-Nya. Ibarat intan yang mulia yang tidak bisa disentuh oleh tangan-tangan kotor, karena itu dibungkus dengan kain agar siapa saja bisa menggenggamnya dan merasakan nilainya, Di dalam surat al-Anfal ayat 23 Allah swt berfirman, “Seandainya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, pasti Allah akan membuatnya mereka mau menyimaknya.” Maksudnya bahwa menyimak al-Quran menuntut kualitas diri yang mulia agar Allah berkenan membukakan pintu hatinya, kalau tidak ada kualitas diri seperti itu maka Allah tidak akan membuatnya mendengar.
    Al-Quran itu diselimuti oleh berbagai hijab—ribuan hijab—agar bisa dicerna oleh yang lemah akalnya, sebab yang terlalu benderang akan menyilaukan mata yang lemah, sepertinya halnya kelelawar yang tidak kuat dengan cahaya matahari, karena itu mereka tidak suka berkeliaran di siang hari. Agar si lemah dapat menikmati cahaya al-Quran, cahaya itu tidak dilemahkan intensitasnya tapi cahaya itu tapi dibungkus dengan ribuan pembungkus (hijab),

    al-Quran itu satu hakikat tapi memiliki martabat-martabat dalam penurunannya (tanazul) dan memiliki ragam nama sesuai ragam lokus. Al-Quran yang ada di tangan kita adalah kalamullah dan kitabullah sekaligus. Sebagai kalamullah ia adalah cahaya maknawiyah. yang diturunkan pada hati-hati para kekasih-Nya. Al-Quran mengisyaratkan “Walakin ja’alnâhu nûran nahdî bihi man nasyâ min ‘ibâdina. wa bil haqi anzalnâhu wa bilhaqi nazala. (akan tetapi kamu turunkan cahaya itu untuk kami bimbing orang-orang yang Kami kehendaki dan kami turunkan hakikat al-Quran itu)
    Bagi para arif, kata-kata, konsep adalah simbol dari sebuah makna yang ingin disampaikan oleh Zat yang agung. Allah menggunakan bahasa sebab bahasa adalah media yang dekat dengan pemahaman manusia. Tamtsil, metaforis, alegoris, semua itu adalah simbol-simbol. Dulu kita sering mendengar dongeng-dongeng dari nenek tentang kisah-kisah yang memesona, tapi nenek sebenarnya ingin mengatakan sesuatu yang sangat pesan penting di balik dongeng-dongeng tersebut. Disini kita bisa melihat misalnya gambaran tentang surga yang menawarkan kebahagiaan-kebahagiaan fisik seperti kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (jannâtin tajrî min tahtihâ al-anhâr). Pernyataan-pernyataan ini menurut para arif hanyalah simbol untuk menarik hati orang-orang yang masih terhijab dalam fantasi fisik—sementara kebahagiaan yang sebenanrya adalah memiliki karakter spiritual— dalam hadis ditegaskan bahwa tidak ada kebahagiaan yang mengatasi kebahagiaan melihat Allah Swt.

    Keistimewaan Tafsir Isyârî

    Kadang-kadang kehidupan ini sangat ditentukan oleh apa yang tidak tampak, yaitu perasaan, emosi, iman, sesuatu yang sangat tidak tersentuh oleh indrawi, dan sesuatu yang tidak bisa dilacak oleh alat-alat fisik. Dan benar seperti kata seorang bijak dan bestari bahwa yang sangat halus dan lembut justeru memiliki gerakan yang sangat dahsyat. Maka demikian juga adalah sangat mustahil al-Quran tidak menghargai pengetahuan-pengetahuan batin yang diperoleh oleh seseorang yang selama hidupnya beribadah dengan ikhlas kepada Allah swt.
    Pengetahuan yang bersifat batin, ilhami, intuitif, kontemplatif memiliki tingkatan-tingkatan antara satu yang lain : antara yang benar dan tidak benar, antara yang haq dan batil, pengetahuan yang sejenis seperti ini membutuhkan standar dan standar itu adalah syariat , akal, dan ijma’.
    Jika al-Quran hanya sekedar himpunan kata-kata yang kering dan tidak mengandung makna-makna batin maka tidak mungkin melahirkan inspirasi-inspirasi spiritual. Sayid Qutub misalnya—sekalipun terkenal sebagai pembela kelompok literalis—pernah mengatakan bahwa kebahagiaan spiritual dan ilham sebagai sesuatu yang sangat menentukan bagi kehidupan setiap orang
    Yang kedua dan ini yang menjadi tesis saya bahwa pandangan yang parsial tentang al-Quran itu beranjak dari sikap yang tidak adil terhadap ayat-ayat lain. Mereka tidak memiliki pengetahuan atau tidak membaca ayat-ayat lain yang secara diametrikal berbeda dan yang ketiga ini adalah penyakitnya para ulama yaitu kurang analisa yang tajam- sesuatu sikap yang tidak terpuji. Al-quran mengatakan bahwa hanya orang-orang yang serius, giat mengasah pikiran dan menganalisa dengan tajam yang akan memperoleh insight. Jadi perintah untuk tafakur dan berpikir bukanlah sekedar berpikir saja tapi memang benar-benar berpikir dan mengerahkan seluruh waktu, tenaga dan analisa dengan data-data yang lebih lengkap untuk mendapatkan kesimpulan yang matang.
    Tafsir isyari juga memberikan makna yang dalam atau hakikat dari setiap simbol, seperti dalam ayat terakhir surah al-Fatihah. kita diingatkan bahwa maghdubi ‘alayhim—yang biasanya ditunjukkan orang- orang yahudi —ternyata orang-orang muslim juga bisa terkena damprat ayat tersebut. Ibnu Arabi misalnya mengatakan yang bahwa yang dimaksud dengan kata magdhûbi alayhim (yang dibenci) dalam tafsirnya adalah mereka yang terhijab oleh hijab materi, hijab inderawi (hijab jasmani) dan dzawq hissi (sens taste) sehingga tidak bisa merasakan karunia kalbu, karunia akal dan itu mirip orang-orang Yahudi yang terlalu mempertahankan klaim-klaim eksoteris. Dengan demikian jika ada orang-orang muslim yang anti terhadap karunia-karunia spiritual mereka adalah bukti konkret dari ayat maghdûbi alayhim.

    Dengan bantuan tafsir-tafsir Isyari ditemukanlah makna-makna yang lebih mendalam, komprehensif- yang sering hilang dalam tafsiran-tafsiran teologis, fikih dan sektarian─apalagi tafsiran politis fundamentalis. Tafsir isyari juga adalah bentuk apresiasi atas amal sebab makna-makna itu ditemukan oleh orang-orang suci dan yang ingin membersihkan dirinya. Dengan kata lain lewat tafsir isyari kita menemukan religious experience yang sangat tak terbatas- sekaligus juga untuk menyerap yang tak terbatas (unlimited).
    Tetapi terlalu melompat (leaf) pada tafsiran isyari juga kadang-kadang— jika belum waktunya yang tepat— dikhawatirkan akan kurang mengapresiasi kekayaan tafsir eksoterik— lebih-lebih lagi dengan tafsiran isyari kadang-kadang terasa hilang dimensi historis, ruang, waktu, konteks dan teks. Saat kita membaca surah Yusuf misalnya, lewat sejarah bisa menghirup perjuangan dan penderitaan seorang anak muda yang dizalimi, difitnah, Demikian juga dengan sejarah dakwah Nabiyullah Musa as, dan analisa sastera, kita bisa merasakan degup keberaniannya dalam melawan tiran yang sangat bengis di zamanya.
    Akhirnya kita akan melihat bahwa setiap orang lebih suka dengan pilihan-pilihannya sendiri, Mereka lebih senang memilih ayat-ayat yang sesuai dengan selera hati dan pikiran mereka dan kadang-kadang mengabaikan ayat-ayat lain, maka dalam hal ini memang seperti yang dikatakan oleh Mulla Shadra bahwa ketika pendapat telah menjadi keyakinan akhirnya setiap orang akan terbelenggu dengan keyakinan, dan jika pendapatnya adalah kesesatan maka akidahnya juga akan menjadi kegelapan yang nyata.
    Membaca al-Quran atau menafsirkan al-quran adalah penyatuan antara wujud yang lemah dengan wujud Yang Mahamulia. Jadi secara ontologis tafsir adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas wujud, sebab kuantitas dan kualitas ilmu juga akan meningkatan intensitas wujud.
    Secara epistemologis tafsir isyari adalah suatu bentuk apresiasi atas pencarian ilmu lewat penyucian diri─seperti yang sudah disinggung dalam paragraf di atas─yang juga sangat ditekankan oleh al-Quran. Salah satu upaya itu adalah dengan melawan dorongan-dorongan rendah dari jiwa, yaitu nafsu. dalam hadis dikatakan : Sesungguhnya Allah swt mencintai sang pemberani—yaitu yang berani membunuh hayat (ular) dan tidak ada hayat (ular) yang lebih mengerikan dari nafsumu; taklukanlah dan selamatkan dirimu dari racunnya yaitu akidah yang batil, pendapat yang kotor, dan pengaruh-pengaruhnya…..

    Ibnu Arabi dan tafsir

    ar-Rabbu haq wal ‘abd haqqun
    ya layta syi’ri man al-mukkalaf
    in qulta ‘abdu fadza nafyu
    aw qulta rabb fama yukalaf
    (Rab itu al-haq dan hamba juga al-haq,
    duhai seandainya aku tahu siapa yang mukalaf itu?
    Jika hamba maka tidak ada hamba itu!
    dan pabila tuhan maka bagaimana mungkin ia mendapatkan
    taklif?!)

    Ibnu Arabi sangat memiliki perhatian yang sangat istimewa terhadap al-Quran bahkan kitab magnum opusnya yaitu Futuhat al-Makkiyyah adalah sebuah tafsir al-Quran dalam bentuk yang sangat istimewa. Ibnu Arabi juga menulis kitab-kitab tafsir tradisional dalam 24 jilid. Kemudian ia menulis lagi tafsir dalam bentuk yang lain yaitu tafsir isyari dalam 12 jilid, dan setelah itu energinya seperti tidak habis-habis ia menulis lagi tafsir takwil yang dipersembahkan untuk komunitas ahli haq dalam dua jilid. Dr, Sulaimn Atas dari Turki menyebutkan dengan mengutip dari kitab Kasyf Dhunûn bahwa Ibnu Arabi memiliki kitab tafsir irfani hingga surah al-Kahfi yaitu terdiri dari 6 jilid kitab dan ada kitab lain yang berbeda metodanya terdiri dari 8 jilid.
    Menuru Ibnu Arabi tafsir di dalam kitab Futuhat al-Makiiyah mengatakan bahwa tafsir yang asli itu adalah tafsir isyari, namun para mufasir isyari menjelaskan tafsir mereka secara rahasia (dengan bahasa isyarat) karena mendapatkan kecaman dan tekanan dari para ulama zahiri (rusûm).
    Tentang doktrin-doktrin wahdatul wujud ada beberapa teks ayat yang selalu dikutip oleh para pendukungnya seperti ayat tentang bahwa sesungguhnya Allah itu lebih dekat dari urat leher (habl al-warîd) seseorang. Untuk martabat Ahadiyah misalnya digunakan ayat dalam surah al-insan ayat 1 : kâna llaha wa lâ syaian ma’ahu (sesungguhnya Allah dan tidak ada sesuatupun bersamanya). untuk menyatakan bahwa yang ada hanyalah Allah dan yang lain akan tenggelam di dalam diri-Nya, kullu syai`in hâlikun illa wajha-hu wa ilauhi turja’un (Segala sesuatu akan hancur kecuali Dia. Dia adalah pemiliki keputusan (hukm) (al-Qashash :88) atau untuk menjelaskan bahwa Allah itu bermanifestasi dimana saja, ayat ini yang dikutip, fa aynama tuwallu fatsamma wajhhullah (kemana saja kalian berpaling maka di sanalah wajah Allah).
    Ayat-ayat al-Quran memang memiliki kharakterisitk yang khas dan tidak bisa direduksi dalam satu jenis kategori. Bahkan kalau kita mempelajari lebih dalam lagi─ tanpa harus meminjam doktrin-doktrin luar biasa dari para sufi─ayat-ayat al-Quran mengandug konsep-konsep yang lebih hebat dari wahdatul wujud, wahdat syuhud, tajali, dan sebagainya. Terlalu sederhana kalau tafsiran yang paling menakjubkan dari ayat al-Quran adalah tentang wahdatul wujud ansich terdapat kategori-kategori lain yang dari ayat-ayat itu yang luar biasa menakjubkan. Ayat-ayat al-Quran adalah syarah atas af’al,shifat dan Zat Allah swt.

    Menurut Ibnu Arabi setiap ayat memiliki tiga maqam; maqam Jalaliyah, maqam jamaliyah dan maqam barjazkh (maqam pertengahan)
    Yang sangat khas dari karya-karya Ibnu Arabi adalah kutipan hadis-hadis yang banyak memuji para sahabat yang notabene jarang dikutip oleh Mulla Sadra. Tidak sedikit Ibn Arabi memuji para sahabat misalnya dalam Tafsir Ibn Arabi, ia mengutip hadis tentang keutamaan Abu Bakar. Rasulullah pernah berkata tentang Abu Bakar ra Sesiapa yang ingin melihat mayat yang berjalan di muka bumi maka perhatikanlah Abu Bakar. Maksudnya Abu Bakar telah mematikan dirinya dan berjalan dengan Allah (yamsyi billah). Bagi siapapun yang pernah membaca kitab-kitab Ibnu Arabi begitu pula dengan tafsirnya akan merasakan kerumitan bahasa dan rumus-rumus yang hanya bisa diketahui oleh ahlinya saja. Karena itu menangkap gagasan Ibn Arabi dalam tafsirnya jelas sebuah usaha yang sangat sulit sekali—sekalipun misalnya kita sudah bisa memahami doktrin-doktrin fundamentalnya—rasanya Ibu Arabi adalah fenomena yang luar biasa yang banyak menawarkan inspirasi. Style tulisannya sangat tinggi, sastrawi dan mungkin bisa diinterpretasikan dengan berbagai tafsiran

    Al-Quran menurut Mulla Sadra

    Mulla Sadra membedakan antara kalamullah atau wahyu dengan kitabullah. Pertama al-Quran secara hakkikat diturunkan kepada Muhammad—wa bil haq anzalnâ, dan hakikat (al-Quran) kami turunkan (kepada Muhammad)—ini menegaskan bahwa sesungguhnya dalam tingkatan yang paling tinggi Muhammad telah menerima keseluruhan al-Quran dan sekaligus hakikatnya. Namun dalam tingkatan untuk umatnya beliau harus menyampaikannya disesusaikan dengan situasi dan kondisi.
    Mulla Shadra mengatakan bahwa

    Al-quran memiliki derajat-derajat dan manzilah-manzilah seperti layaknya manusia juga memiliki derajat-derajat . Derajat yang paling bawah dari al-Quran adalah seperti derajat yang paling bawah dari manusia. Derajat yang paling bawah dari al-Quran yaitu yang ada di antara jilid dan demikian juga derajat yang paling bawah dari manusia adalah apa yang ada di kulitnya. Dan bagi setiap derajat ada para pemikul ( hamalah) yang selalu menjaganya dan mencatatkannya—yang tidak akan disentuh kecuali setelah membersihkan diri dari kotoran (hadats) atau kebaharuan (huduts) atau setelah menyucikan diri dari belenggu-belenggu tempat dan status imkân (possibility states). Manusia lahiriyah hanya akan mengapresiasi kulit al-Quran dan format fisiknya—Sementara ruh al-Quran hanya bisa dicerap oleh Ulûl albâb.

    Di dalam surat al-Hasyr, ada ayat yang menyatakan seandainya al-Quran itu kami turunkan di atas gunung maka gunung itu akan hancur karena takut kepada Allah swt. Ayat seperti ini tidak mendapatkan refleksi yang mendalam dari sebagian kalangan kaum muslimin. Apakah tega hanya melihat segala sesuatu dari kulitnya saja. seperti orang yang mengukur kemuliaan seseorang dari penampilan-penampilan lahiriyah dengan tanpa memperhatikan kualitas-kualitas batinnya? Cara pandang seperti itu telah menjerumuskan seseorang pada pandangan dunia positivisme yang menjadi kaki tangan materialisme
    Seringkali orang kesulitan melihat kesatuan antara makna lahiriyah dan makna isyari seperti halnya orang kesulitan melihat kaitan antara syariat, thariqat dan hakikat atau kesatuan yang utuh dari akal dan syariat. Sayid Haidar Amulî menyatakan bahwa syariat, thariqat dan hakikat adalah perpaduan yang utuh. demikian juga dengan ahlinya. Lebih lanjut arif syiah ini menyatakan bahwa syariat adalah level pertama (martabat ulâ), thariqat adalah level menengah (martabat mutawâsith) dan haqiqat adalah level yang paling puncak (martabat nihâi). Karena itu Rasulullah juga menyatakan bahwa utîtu jawâmi al-kalâm (aku dianugerahi kemampuan untuk menyampaikan sesuatu yang meliputi segala hal)
    Mengkaji tafsir ayat al-quran rasanya tak akan pernah lekang oleh zaman—sebab setiap orang yang beriman selalu membutuhkan pencerahan-pencerahan al-Quran—dan rasanya tidaklah salah bahwa salah satu al-quran adalah mukjizat abadi dan terbesar dari mukjizat-mukjizat yang lain. Salah satu mukjizat itu adalah kekuatan petunjuk spiritualnya (hûdan) —yang akan membuat takjub siapapun yang mencoba menghampirinya—dari sisi lain al-quran juga bisa menjadi sumber polemik dari yang lembut hingga yang kasar dan bahkan menjadi justifikasi untuk tindakan-tindakan yang justeru bertentangan dengan semangat al-Quran sendiri. Tetapi ini bukan kesalahan al-Quran. Menurut Mulla Sadra, manusia lah yang menjadikan teks al-Quran itu cahaya yang menyinari hatinya atau belenggu untuk dirinya; menghijab dirinya dari cahaya kebenara.
    Al-quran adalah kalamullah dan kitabullah sekaligus. Kalamullah artinya adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw; adapun kitab Allah,maksudnya adalah mushaf yang ada di tangan kita ini—yang terjaga keasliannya dari sejak diturunkan hingga sekarang— Al-Quran sebagai kalamullah— jika difahami kalam sebagai sifat zat Allah—maka al-Quran bukanlah makhluk; ia abadi. Namun jika kalamullah difahami sebagai af’al Allah— yaitu Allah berbicara kepada Rasulullah—maka ia adalah makhluk-Nya, Sebab Af’al tuhan meniscayakan sisi lain yang menjadi penerima wahyu tersebut. Sayangnya kekeliruan dalam memahami sifat zat dan Af’al ini telah melahirkan fitnah yaitu tuduhan kafir kepada yang menganggap al-Quran sebagai makhluk. Sang penuduh dari kelompok Asy’ari menganggap Muktazilah yang menyatakan al-Quran sebagai makhluk dianggap telah merendahkan Kalamullah.
    Sangat axiomatis sekali bangunan Islam didirikan di atas ilmu pengetahuan . Ilmu pengetahuan artinya adalah kesadaran spritual dan intelektual dan maxim (amanah) dari para pengembannnya—jangan-jangan masalah-masalah yang timbul dari aliraran-aliran Islam di era klasik—sebenarnya bersumber dari kekacauan cara berpikir dan nalar yang tidak logis dan tidak sistematis; tidak holistik alias parsialis, atau mengabaikan proses alamiah dan ilmiahnya, atau tidak diuji secara metodologisnya oleh para ahli zamannya; suka menyederhanakan pendekatan atau mengebiri akal sehat, tidak mempertimbangkan opini-opini umum, tidak berusaha menguji validitas tafsirannya dengan tafsiran yang lain, sekaligus mengabaikan standar-standar baku dari pada pakarnya
    Saya setuju dengan Dr. Syihabudin Qalyubi yang menyatakan bahwa banyak orang yang kagum kepada al-Quran, namun mereka tidak dapat menjelaskan mengapa mereka kagum atau tertarik. Pesona al-Quran bukan hanya karena faktor dogma teologis tapi juga karena ada faktor inheren di dalam teks itu sendiri.
    Namun anda juga jangan tergesa-gesa berpikir bahwa mereka yang masih menolak jenis tafsir isyari tidak merujuk pada al-Quran. Tampaknya pendapat apapun di dalam Islam baik pendapat yang pro atau kontra,yang ekstrim atau yang moderat tidak pernah tidak meninggalkan al-Quran sebagai dasar dari pemikiran mereka. Ini seolah-olah mengindikasikan bahwa al-Quran alih-alih mempesatukan malah memungkin membuat umatnya terus berpolemik.
    Misalnya kelompok yang menolak jenis tafsir isyari mengatakan bahwa semua ayat di dalam al-Quran itu telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. Di dalam surah an-Nahl ayat 44, Allah swt berfirman Kami turunkan padamu ad-zikra (al-quran) untuk engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah kami turunkan padamu agar mereka berpikir) Atau ayat bahwa yang menyatakan bahwa Allah telah menyempurnakan agama Islam ini dan juga karunia-Nya. Jadi seandainya tidak ada penjelasan dari nabi berarti nabi tidak melaksanakan titah Allah swt dan agama ini menjadi tidak sempurna. Semuanya telah disampaikan dengan tuntas. Tapi kita mendapatkan riwayat dari siti Aisyah. Siti Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak menafsirkan seluruh ayat al-Quran dari awal hingga akhir ayat. Asiyah mengatakan Rasulullah tidak menafsirkan al-quran kecuali yang diajarkan oleh Jibril kepadanya.

    Saling keterkaitan antara tafsir eksoteris dan tafsir esoteris.

    Karena tafsir-tafsir isyari yang ada itu tidak mudah juga dicerna- tafsir ibnu Arabi misalnya—yang kadang-kadang dinisbatkan kepada Faydh Kasyânî sangatlah menguras pikiran- Misalnya tafsiran untuk ayat ‘Bismillahirahamnirrahim ‘ kita sulit menikmat penjelasannya lain halnya jika kita membaca tafsiran-tafsiran tradisional, kita bisa menikmati penghayatan makna ar-Rahman dan ar-Rahim yang cukup menggugah kesadaran spiritual.
    al-Quran yang kita baca ini sangat tergantung pada pemaknaan yang membacanya. Al-Quran yang anda baca ini akan menjadi musuh ketika anda menjadikan ayat-ayatnya sebagai tunggangan belaka. Kualitas spiritual seseorang bisa menentukan jarak antara dirinya dan kitab suci al-quran. Ada banyak sekali hijab yang menutupi al-Quran—andaikan hijab-hijab itu terangkat—maka cahaya al-Quran akan menghangatkan jiwa anda. Jiwa yang penuh daki-daki keputuasaan, pesimisme atas kasih sayang tuhan akan sulit menembus hijab-hijab itu dan sukar menikmati cahaya petunjuk al-Quran.
    Tentu saja ini bukan rahasia bagi para arifin atau para ahlillah—yang telah mencapai maqam-maqam spiritual—pasca melewati tahapan-tahapan tazkiyatun nafs. al-Quran itu petunjuk, namun tidak seperti yang dicerna oleh kaum lahiriyah atau yang belum mencapai maqam yang layak mengapresiasi al-Quran. ini bukanlah kitab biasa-biasa yang tidak perlu takzim yang menyeluruh dari diri- tapi al-Quran adalah oase bagi kegersangan spiritual manusia era ini. Menurut Mulla Sadra bahwa rahasia dari diturunkan al-Quran untuk mengajak manusia mencapai alam yang lebih tinggi—frase seperti ini tidak akan anda temukan dalam tafsir-tafsri eksoteris yang terpaku dengan pesona-pesona lahiriyah al-Quran semacam fashahat, balaghah, keselarasan, inspiring teks, atau yang kagum dengan cerita-cerita masa lalu, mukjizat-mukijzat nabi-nabi—Al-quran adalah script (naskah) untuk mentraining hamba—melejitkan dari kubangan semak-semak kehinaan menuju puncak kesempurnaan (uz kamâl), pengetahuan—plus memberikan juklak safar spritual (spiritual journey) kepada-Nya.

    Contoh-contoh tafsir Isyari

    Imam Shadiq as pernah berkata, “Tidak ada satu pun masalah yang diperselisihkan dua orang kecuali pasti ada jawabannya di dalam al-Quran hanya saja tidak semua orang bisa menggalinya. Imam Shadiq as menyatakan Allah bertajali kepada hamba-hamba-Nya lewat kalam-Nya tapi tidak terlihat. Tentang Imam Jafar Shadiq ini, imam Malik bercerita bahwa Imam Jafar Shadiq as selalu dalam tiga kondisi ; sedang menunaikan salat, sedang berpuasa, atau sedang membaca al-Quran, dan tidak pernah menyebutkan nama Rasulullah saw tanpa dalam keadaan berwudu.
    Wahai orang-orang yang beriman penuhi janji kalian. Menurut Ibn Arabi yang dimaksud dengan orang yang beriman, yaitu iman ilmi. dan yang dimaksud dengan penuhi janji kalian (awfu bil-‘uqûd) yaitu janji ketegasan kalian di dalam suluk. Perbedaan antara ‘ahd dan ‘aqd; ‘ahd adalah ibda’ tauhid fi al-ajal (menghidupkan tauhid di ajal). dan aqd yaitu membulatkan tekad untuk suluk. Wa la tuhillu sya’arillah artinya yaitu janganlah kalian lepaskan maqam-maqam dan ahwal-ahwal di dalam suluk seperti sabar, syukur, tawakal, ridha dsb
    Janganlah kalian terpukau dengan aktifitas orang-orang kafir─ menurut Ibnu Arabi, orang kafir yaitu insan yang terhijab dari tauhid; yaitu din al-haq dalam (urusan) maqamat dan ahwal.
    Washiti memiliki pandangan bahwa kematian sejati itu pasti diinginkan oleh jiwa. Ia menafsirkan ayat maka bertaubatlah kepada tuhan kalian dan bunuhlah diri-diri kalian! (Qs al-Baqarah: 54). Taubat umat ini (umat Islam) lebih berat dari taubat bani Israil. Taubat bani Israil dengan cara membunuh jiwa-jiwa mereka sementara umat ini harus membunuh hakikatnya dan bukan hanya jiwanya
    Sekalipun hadis-hadis itu menegaskan bahwa untuk setiap ayat ada makna batinnya disamping makna-makna lahiriyah. Yang dimaksud dengan makna-makna lahiriyah adalah makna-makna yang difahami dari lafaz-lafaz ayat itu—tentu saja dengan bantuan analisis bahasa— atau juga makna-makna yang difahami lewat bantuan riwayat, sejarah¬—sementara yang dimaksud makna-makna batiniyah seperti yang telah disinggung di atas adalah makna-makna yang dicerap oleh seorang arif atau makna yang dijelaskan oleh Rasulullah, para imam atau wali-wali yang suci di luar makna yang umum. Namun kemudian kita juga melihat bahwa di dalam tafsir-tafsir irfan tidak semua ayat itu ditafsirkan. Sebagian besar ayat-ayat yang dijelaskan makna-makna lahiriyahnya adalah ayat-ayat tertentu saja— dan terutama jenis ayat-ayat yang memang mengandung kiasan-kiasan, atau simbol-simbol seperti cahaya, pohon yang baik (syajarah thayyibah), ceruk, misykat, dan lain-lain.
    Kita belum bisa mengetahui apakah kecenderungan itu karena pesona ayat-ayat itu yang memiliki magnit yang lebih dahsyat dari ayat-ayat lain ataukah karena kekayaan makna-makna ayat itu yang bisa mewadahi seluruh perspektif esoterik, ataukah selera para mufasir esoterik yang hanya memilih ayat-ayat tertentu saja?!.
    Tafsiran isyari menjadikan ayat-ayat hanyalah sebagai simbol (sandi) atau code kepada makna yang lebih dalam lagi. Misalnya ayat yang berbicara tentang syajarah thayyibah (pohon yang baik) dimana akarnya menghunjam kuat ke dalam tanah (ashluha tsabitun) dan rantingnya atau dahannya menjulang ke langit (far’uha fi as-samâ) yang memberikan buah-buahan setiap saat (tu`ti ukuluha kulla hîn). Syaikh Jafar Subhani mewakili kaum theolog menafsirkan pohon yang baik sebagai keyakinan yang benar (aqidah shahihah), yang ciri-cirinya keyakinan itu harus kuat menghunjam di dalam dada, namun keyakinan itu mendorongnya untuk selalu taqarrub kepada Allah di saat yang sama juga memberikan keberkatan kepada manusia yang lain dan ayat yang sama ini juga menunjukkan keutamaan keluarga nabi. Yang dimaksud dengan pohon, akar dan cabang adalah personifikasi dari manusia-manusia ma’shûm yang suci. Kedua makna itu tentu saja tidak bertentangan, Maka esoteris tidak boleh bertentangan dengan makna esoterik. Yang satu berbicara tentang takwil dan satu berbicara tentang sebuah prinsip.
    Di dalam kitab-kitab tafsir syiah kita menemukan banyak sekali tafsiran atau takwil ayat-ayat itu untuk menunjukan keistimewaan imam-imam seperti ayat ‘amma yatasâlûna, tentang imam Ali.
    Di dalam surah Saba ayat 46. Qul innama ‘aiduum biwahidaitn an taqûmû lillah (katakanlah aku hanya menasehatimu dengan satu hal yaitu bangkitkan untuk Allah). Menurut penyusun Kitab Anîsul ‘Ârifîn yaitu kitab yang berisikan komentar Abd Razaq Kasyani atas kitab Manâzil Sâirîn li-Khaja Abdulllah Anshârî; yang dimaksud dengan bangkit untuk Allah (awakening) adalah awakening dari tidur kelalaian (ghaflah) atau dari perangkap kevakuman (wartah fatrah). Kebangkitan menuju Allah dalam terma sufi adalah yaqzah, Yaqzah merupakan maqam awal yang harus dimasuki oleh para salik yang ingin menuju Allah. Ayat ini menjadi memiliki makna yang agung dibandingkan dengan tafsiran eksoterik yang biasa-biasa saja yang— diberikan oleh tafsir-tafsir kaum teolog.
    Salah satu hikmah dari makna-makna batin adalah mengangkat makna-makna lahiriyah dari ayat-ayat yang hanya bisa difahami oleh mereka yang terhijab hatinya. Dan untuk mereka yang terbelenggu dengan kulit-kulit (literal) ayat-ayat al-Quran.
    Sisi lain dari keindahan tafsir isyari adalah ayat-ayat itu selalu menyingkapkan sifat-sifat dan af’al Ilahi, Jadi para arif selalu mencari kreasi dan sifat-sifat tuhan dari ayat-ayat itu sementara kaum literalis hanya mencari nomos (hukum)nya. Pemahaman atas hukum tanpa menghubungkan dengan sifat dan af’al Tuhan mungkin akan menghasilkan pemahaman yang tidak lengkap—bahkan sebenarnya sebagian para mufasir juga sudah menyebutkan tentang rahasia penyebutan sifat-sifat tuhan di setiap akhir ayat; yang menjadi clue atas makna yang sebenarnya dari ayat itu, dengan demikian ayat-ayat yang diakhiri dengan menyebutkan sifat-sifat Jamaliyyah-Nya seperti Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang, atau Mahasantun (raûf), niscaya ayat itu berbicara tentang hal-hal yang positif, dan jika ayat itu diakhiri dengan sifat-sifat Jalaliyah-Nya maka ayat itu berbicara tentang dampratan untuk suatu kaum atau untuk perbuatan tertentu.
    Sisi lain dari tafsir isyari adalah kekayaan maknanya , bahkan salah seorang arif mengatakan bahwa setiap huruf mengandung ribuan makna bahkan sampai enam puluh ribu makna.

    Posted by nano warno (salman fadhlullah) | June 30, 2010, 2:50 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: