//
you're reading...
Edisi Desember: Labelisasi Islam

Ketika Label di-muallaf-kan

desemHE1By Okky

Seputar Penamaan

Pendapat Shakespeare tentang “apalah arti sebuah nama?” seolah mengindikasikan bahwa nama tak begitu berarti. Namun pandangan tersebut tak berlaku pada kancah pemasaran. Dalam dunia marketing, nama memegang peranan penting. Di pasaran, kita bisa saksikan betapa nama (berkenaan dengan labelisasi) begitu berpengaruh terhadap pemasaran barang tersebut. Banyak produk dengan kualitas baik, namun tak dilirik. Sebaliknya, tak sedikit produk dengan mutu biasa-biasa saja, tapi mampu merebut perhatian pasar. Ini disebabkan oleh packaging produk tersebut. Betapapun baik kualitas suatu produk, ia tak akan mampu meraih perhatian konsumen tanpa dibalut dengan kemasan yang menawan. Berkenaan dengan itu, para produsen berupaya keras mengemas produk mereka agar tampil menarik, entah itu dengan nama atau simbol tertentu. Ini semua dilakukan guna mendongkrak penjualan.

Berkenaan dengan betapa pentingnya hal tersebut di atas, maka para produsen pun berupaya dengan beragam cara untuk menjadikan produk mereka tampil menarik. Ini semua dilakukan untuk memikat, bahkan menumbuhkan fanatisme konsumen pada produk yang mereka hasilkan. Banyak manuver mereka lakukan, entah itu dengan menggunakan logo-logo yang berbau pop, atau simbol-simbol nyentrik yang mampu mengalihkan perhatian orang banyak. Cara lain juga dilakukan dengan membangun kesetiaan pada merek melalui aspek emosional. Dalam hal ini, agama dapat dijadikan alat. Sebagai sekumpulan besar populasi, umat beragama adalah para pelaku kegiatan transaksi dalam jumlah besar. Ini berarti, mereka berpotensi besar mendongkrak penjualan suatu produk yang mereka senangi secara emosional.

Membaca peluang tersebut, para produsen pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Kemilau keuntungan begitu memancar jelas dalam pandangan mereka yang melek pasar. Menyikapi hal ini, para produsen langsung mengambil sebuah langkah jitu. Mereka mengikuti atau bahkan mengkonstruk kesadaran pasar dengan simbol-simbol ideologis atau emosional yang berupa label agama. Dalam pada itu, umat beragama mayoritas di Indonesia adalah umat Islam. Maka langkah yang diambil adalah melakukan labelisasi produk dengan logo “Islami”. Meskipun terkadang agak dipaksakan, sehingga memiliki arti bias, namun upaya ini terus dilakukan semata-mata untuk mendongkrak penjualan. Dalam bahasa yang sangat sederhana, simbol Islam dilekatkan pada produk tertentu semata-mata untuk meraup untung besar.

When “Islam” become sexy

Belakangan, kita menyaksikan fenomena islamisasi multi aspek begitu marak. Simbolisasi produk dengan menyematkan kata islami, muslim, syariah, dan macam sejenisnya, demikian menjamur. Ada yang menggunakan label Islam di bidang sastra, dan lahirlah “fiksi islami”, meskipun tak jelas betul apa yang membedakannya dengan fiksi selainnya. Di bidang musik, ada yang mencoba membuat musik islami dengan beragam varian. Masih dalam lingkup yang sama, seni, ada sebagian orang yang mencoba melabeli film dengan “film islami”, namun hingga kini tak jelas betul apa yang dimaksud dengan film model tersebut.

Pada domain yang berbeda, fenomena serupa pun terjadi di bidang perbankan. Tiba-tiba saja lahir begitu banyak bank syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, dan lain sebagainya. Sebagai pendatang baru, dengan kemasan segar yang menyentil emosional umat Islam, genre tersebut pun mampu merebut perhatian nasabah yang mayoritas umat Islam. Hanya saja yang menjadi masalah, seislami apa perusahaan tersebut. Apakah hanya dengan menyematkan kata syariah, lantas mereka menjadi islami? Toh, dalam skala nasional mereka masih terikat pada rule perbankan konvensional sebagai induk perbankan.

Namun ada suatu fenomena pelabelan yang “aneh bin ajaib”. Kendati masih dalam ranah bisnis, namun labelisasi yang mengacu pada nilai-nilai islami yang dilekatkan pada produk ini terdengar tak wajar. Pasalnya, ini terjadi pada produk berupa telepon genggam. Labelisasi memang tidak secara langsung menggunakan kata Islami. Namun penggunaan kata “Hidayah” pada handphone tersebut jelas menggiring konsumen pada aspek emosional mereka sebagai umat Islam untuk membeli telepon selular yang sudah mendapat hidayah itu. Namun tetap saja aneh. Apa maksud labelisasi agama pada alat komunikasi tersebut? Seolah-oleh konsumen akan mendapat hidayah jika menggunakannya. Atau mungkin produsen ingin mengatakan bahwa produk sejenis yang diproduksi pihak lain tidak mendapat “hidayah”.

Dari fenomena tersebut, kita dapat menyaksikan bahwa meskipun terkadang aneh, namun penyematan nama Islam atau sejenisnya tetap dilakukan. Seolah simbol “Islam” begitu seksi dan mampu meraih simpati pasar. Bahkan sekelompok pemilikir liberal pun tampil seksi di ruang publik ketika mereka menggunakan nama Jaringan Islam Liberal. Boleh jadi mereka tak seseksi atau se fenomenal saat ini jika menggunakan nama lain semisal Jaringan Kaum Muda Liberal, dan sebagainya.

Pendangkalan Makna Islam

Kendati seksi dan mampu merebut perhatian banyak kalangan, namun penyematan kata “Islam” pada suatu produk bukan berarti tak memiiki imbas. Maraknya labelisasi dengan nama, logo, atau simbol Islam pasti memiliki dampak. Saya khawatir labelisasi produk tertentu dengan nama islami dan semacamnya tidak merepresentasikan Islam itu sendiri. Seperti halnya fiksi islami, tak jelas betul apa kriterianya. Jangan-jangan hanya karena diawal halaman tertulis lafal bismillah dengan bahasa arab, maka disebutlah islami. Demikian pula dengan film islami, tak jelas mana yang masuk kategorinya. Apakah karena ada adegan shalat di dalamnya? Kalau iya, apakah “Black Hawk Down” masuk kategori islami? Atau apakah karena ada sosok pejuang muslim. Lantas bagaimana dengan film perang Salib? Di dalamnya ada sosok Salahuddin al-Ayyubi, tapi juga ada Richard The Lion Heart, sang martir Nasrani. Apakah film ini harus dipaksa disebut film islami?

Saya benar-benar khawatir apa yang mereka maksud dengan Islami hanyalah sebatas merek. Ini akan berdampak pada pendangkalan makna Islam itu sendiri sebab sekedar simbol saja sudah tentu tak mampu merepresentasikan nilai-nilai dibalik kata Islam. Semoga keanehan tersebut tak terus dipaksakan. Semoga makna Islam tidak didangkalkan. Semoga Islam tak diperdagangkan.

Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: