//
you're reading...
Edisi Desember: Labelisasi Islam

Kenapa Harus Risih dengan Label Islam

desemHE1By M. Abduh A.S.

Pola pemikiran masyarakat secara umum akan terus mengalami perkembangan. Peradaban dan kebudayaan sebagai capaiannya, pastilah juga mengalami hal serupa. Demikian juga yang terjadi dalam dunia Islam, sebagai sebuah “agama masyarakat”, dalam beberapa aspek sosialnya akan mengalami proses yang tentunya akan berbeda dalam ruang dan waktu. Peradaban Islam di dunia Arab tentu berbeda dengan yang ada di negara kita. Islam dua abad yang lalu tentu berbeda dengan yang sekarang. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah; apakah Islam akan tetap eksis di tengah terpaan arus peradaban yang beranekaragam, ataukah  justru akan terbawa arus dan berubah menjadi “Islam” yang berbeda? Dan Islam macam apakah yang dewasa ini berada di tengah-tengah masyarakat (kaum muslimin)?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, mungkin pembaca mempertanyakan bagaimanakah Islam yang anda maksud itu? Mungkin di sini penulis tidak akan menjelaskan makna ataupun mendefinisikan Islam. Karena akan terlalu banyak penjabaran dan dimensinya. Bagi penulis ia bagaikan “Permata yang Sempurna” yang memiliki banyak sisi yang mampu dipersepsi dari segala arah dan memancarkan cahayanya ketika kita menyinarinya Dan juga dikhawatirkan, dengan keterbatasan wawasan ilmu pengetahuan, akan  membuat Islam  menjadi salah diartikan, dan membatasinya pada pengertian yang terbatas. Namun yang pasti, Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Islam sangat luas bahkan tidak dapat dipahami hanya sebagai sebuah agama dalam pikiran  kita saja.

Di sisi lain “Islam adalah yang di sini bukan yang di sana”. Islam sangat dekat dengan kita (masyarakat). Karena ketika kita menyebut diri kita muslim maka term “Islam” akan selalu bersanding dengan kita. Hal ini tentu saja tidak dalam  semua hal. Bukan dengan kejahatan kita, karena kejahatan berlawanan dengan Islam. Islam adalah kebaikan. Sedangkan sesuatu hal yang kontradiksi tidak dapat bersatu. Demikian kata hukum logika.

Kemudian bagaimana ketika term “Islam” bersanding dengan kata-kata baru, dan membentuk arti yang baru pula tentunya? Pun terkadang “kata baru” itu membuat kita terasa aneh atau bahkan risih dibuatnya! Dan memang tidak dipungkiri, bahwa ini menjadi fenomena di masyarakat kita sekarang ini. Entah apa tendensi dari semua itu? Lihat saja ketika muncul kata-karta di masyarakat seperti; lagu islami, perumahan islami, Bank Syari’ah, dan yang baru terdengar adalah handphone islami, dan semua hal yang mengandung term “Islam”  tersebut. Sungguh hebat Islam kita ini!

Dimanakah “Islam” kita sebenarnya?

Sebelumnya, untuk menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengutip perkataan Muhammad Iqbal bahwa menurutnya; “Islam yang sebenarnya tetap eksis, namun tidak berada di tengah-tengah kaum muslimin(kita)”

Apa yang dimaksud Iqbal tersebut? Inilah penjabarannya; Islam yang ada di tengah-tengah kaum muslimin hanyalah Islam yang ditampilkan dalam bentuk slogan-slogan, suara adzan, dan perginya kaum muslimin ke masjid-masjid. Hanya simbol keislaman belaka yang tampil kepermukaan. Untuk menunjukkan citra keislaman, mereka biasanya menggunakan nama-nama islami seperti; Muhammad, Hakim, Husein,‘Abdullah, Ayatullah, dan sejenisnya. Namun, pada hakikatnya, intsari Islam yang sebenarnya tidak terdapat dalam  masyarakat. Intisari dalam masyarakat yang islami sesungguhnya telah mati. Kita membutuhkan kehidupan Islam yang baru. Dan itu mungkin saja terjadi, mengingat pada hakikatnya Islam tidak pernah mati, melainkan kaum musliminlah yang mati.

Islam tidak pernah mati! Mengapa? Karena di sana terdapat kitab langit (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi. Keduanya tampil dalam bentuk yang hidup. Dan ketika Islam berpijak pada yang hidup (alhayyun) maka dia tidak akan pernah mati. Lantas di manakah letak kekurangannya? Kalau tidak ingin disebut sebagai sebuah kesalahan. Kekurangannya terletak pada pemikiran kita (kaum muslimin) itu sendiri. Pemikiran dan cara penerimaan kita terhadap  “ajaran Islam” bukan dalam bentuk yang hidup, melainkan dalam bentuk yang mati. Tentu anda akan lebih mengerti apa yang penulis maksud di sini.

Kemudian Imam Ali as menyampaikan kata-kata yang sangat indah dan luar biasa berhubungan dengan masa depan Islam dan kaum muslimin; “Islam dikenakan baju secara terbalik” ( Nahjul Balaghah, “Faidhul Islam” Khutbah ke 70, hal. 324) Maksudnya adalah masyarakat Islam memang mengenakan baju keislaman, namun baju yang dikenakan ternyata terbalik. Dan orang yang mengenakan dengan cara ini akan terlihat lucu dan aneh, atau bahkan akan menjadi bahan tertawaaan orang lain.

Mungkin ini secara sepele juga terlihat dalam fenomena masyarakat kita sekarang ini. Banyak orang atau masyarakat yang menggunakan simbol-simbol Islam, nama-nama islami, atau yang lainnya untuk hal-hal sepele atau bahkan untuk kepentingan yang lebih serius. “Karena banyak yang bisa dijual dari Islam?” Demikian kata Azyumardi Azra dalam bukunya yang berjudul “Islam Substantif”. Tentunya ini hanya sebuah anekdot yang mungkin saja benar atau sebaliknya. Agaknya Pak Azyumardi ada benarnya, ketika banyak simbol agama (Islam) yang dipakai oleh parpol misalnya, hal itu mempunyai signifikansi yang luar biasa bagi kepentingan parpol itu sendiri. Bahkan Islam dengan potensi komersiil-nya mampu merambah ke dunia ekonomi, politik, sosial-budaya, pendidikan, dan lain sebagainya. Karena memang Islam adalah rahmatan lil ‘alamiin. Akan tetapi saya kira benar-salah akan kembali kepada kita (pemikiran kita) dalam menerima “Islam”, yang eksis, tersebut. Pemikiran kita harus senantiasa hidup, terbuka, dan kritis dalam setiap hal yang datang kepada kita. Memahami “Islam” secara kaffah tentunya, baik secara subtansi maupun aksidennya. Dan akhirnya, kita semua menjadi seorang muslim secara benar memakai pakaian keislaman kita.

“Selamat Berpikir Kritis dan Merdeka!”

Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: