//
you're reading...
Edisi Desember: Labelisasi Islam

Identitas Islam Dibayangi Labelisasi

desemHE1By Wa Ode Zainab Zilullah Toresano

Umat Islam antar generasi senantiasa tak pernah putus asa untuk mengadakan pencarian mendasar mengenai “identitas Islam” yang sesungguhnya. Oleh karena itu, interpretasi mengenai hal tersebut—yang berkaitan erat dengan identitas Islam—seakan tidak pernah basi untuk diperbincangkan. Selain itu, akal pikiran kita secara otomatis menari-nari mengikuti irama untuk mencari jawaban atas pertanyaan; Apakah identitas Islam yang sesungguhnya? Apakah Identitas Islam adalah ketika kita memilih partai yang berlabel Islam?Ataukah identitas Islam sesungguhnya adalah ketika kita mengenakan cadar bagi perempuan, dan berjanggut bagi laki-laki? Ataukah identitas Islam hanya melekat pada orang-orang yang dianggap saleh? Apakah juga umat Islam hanya afdhol menggunakan produk-produk berlabel ‘islami’? Pertanyaan tersebut semakin membingungkan ketika opsi-opsi di hadapan kita hanya berkutat pada “label-label”. Terbersit pertanyaan usil dalam benak kita; “Apakah identitas Islam yang sesungguhnya hanyalah label-label?”

Pemberian label “islami” seolah-olah menjadi fenomena baru dalam pola keberagamaan umat Islam di segala sektor. Dewasa ini, dunia perekonomian Indonesia–sebagai negara mayoritas penduduknya menganut Islam—dihebohkan dengan semaraknya pelabelan “islami” pada merek dagang barang produksi, bahkan mendapatkan labelisasi atau sertifikat dari MUI. Seolah-olah budaya supra-religius sedang menjadi sebuah trend baru dalam sistem kapitalis—yang merajai perekonomian dunia saat ini. Pertanyaan yang paling mendasar; inikah identitas Islam yang sesungguhnya? Apakah islamisasi label pada merek dagang adalah sebuah indikasi merebaknya semangat religiusitas? Mungkin sekadar topeng yang menutupi wajah ekonomi kapitalis? Ataukah label itu hanya kambing hitam? Lalu siapakah yang diuntungkan?

Labelisasi Islam tidak hanya merebak pada sektor ekonomi, tetapi juga pada sektor politik. Sebagai contoh kasus, yakni tercermin pada para politisi daerah yang berbondong-bondong memberlakukan “Perda syariah”. Entah, terobosan tersebut bisa terelisasi di tengah masyarakat yang majemuk dan heterogen ini ataukah hanya sebuah fatamorgana semu. Apakah hal tersebut hanya dijadikan alat bagi politisi, sebagai upaya untuk menutupi isu-isu krusial yang tidak mampu dijamah oleh mereka atau kegagalan mereka dalam melaksanakan program kerja yang esensial? Jika pada kenyataannya, politik mereka hanya berkedok pada labelisasi Islam–terkait dengan pemberlakuan Perda syariah— berarti  hal tersebut sama halnya seperti labelisasi Islam dalam partai-partai politik. Pelabelan Islam, semata-mata hanya digunakan sebagai kendaraan politik untuk mewujudkan tujuan para elite politik. Menilik kembali pada perpolitikan Islam pasca Rasulullah wafat, politik dalam dunia Islam syarat akan labelisasi Islam yang dilakukan oleh para penguasa. Mereka mengatasnamakan pemerintahan mereka dengan “kekhalifah Islam”. Apakah ini identitas Islam yang sebenarnya?

Selain pada sektor ekonomi dan politik, labelisasi Islam telah menjadi candu pada tatanan sosial. Umat Islam mengidap kecenderungan melihat identitas Islam terbatas hanya pada simbol-simbol saja. Islam berjaya karena atribut-atribut yang dilekatkan pada Islam. Islam identik dengan janggut yang panjang, menggulung celana sampai mata kaki, penggunaan tasbih dan sebagainya. Menurut mayoritas umat Islam, identitas Islam yang sesungguhnya melekat pada orang-orang yang rajin ke mesjid, meninggalkan urusan dunia, berteriak takbir yang lantang pada saat merusak rumah ibadah agama lain, dan aksi-aksi yang menunjukkan kesalehan di mata mereka. Apakah identitas Islam yang sesungguhnya hanya label pada tataran sosial? Apakah hakikat sesungguhnya dalam tataran sosial di mata Islam?”

Kita tidak bisa menafikkan hal di atas sebagai suatu fonomena keberagamaan di dalam Islam. Akan tetapi, kita perlu menekankan bahwa Islam sendiri telah mengatur ekonomi, politik, dan sosial bukan hanya pada tataran yang dangkal. Selain itu, Islam juga memiliki sistem yang independen dalam tauhid, syariah, falsafah, irfan, dan aspek-aspek esensial lainnya. Jika kita tilik lebih dalam, hal-hal di atas mengandung identitas Islam yang sesungguhnya. Akan tetapi, sangat disayangkan mayoritas umat Islam hanya melihat pada kulit luarnya saja. Mereka hanya meraba-raba hal yang sudah nyata, namun semu dikarenakan kejumudan berpikir. Pada akhirnya, Islam diperkosa oleh label-label. Islam pun hanya berjaya pada tataran lebel, bukan pada identitas yang sesungguhnya.

Permasalahan yang mendasar adalah ketika labelisasi Islam mengibarkan bendera kejayaannya dengan mengaku bahwa “Akulah identitas Islam yang sesungguhnya!”. Terlebih lagi, mayoritas umat Islam memiliki paradigma serupa. Paradigma tersebut lambat-laun akan merekontruksi pemikiran umat Islam secara masif. Perwujudan labelisasi Islam—oleh oknum-oknum yang berkepentingan—pada semua sektor dapat membahayakan keutuhan persatuan umat beragama pada masyarakat majemuk, seperti Indonesia. Hal itu dikarenakan Islam hanya ditunggangi sebagai alat pencapaian kepentingan, maka label-label dilestarikan dan semakin berjaya. Umat Islam menjadi terlena dengan kejayaan labelisasi Islam sehingga melupakan identitas Islam yang sesungguhnya. Ataukah umat Islam sudah benar-benar buta akan hal itu, karena terlelap dininabobokan oleh labelisasi. Benarkah?

Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: