//
you're reading...
Edisi Desember: Labelisasi Islam, Tokoh

Adonis

desemHE1By Rika Febriyani

Adonis dilahirkan di desa al-Qassabin—Suriah pada tahun 1930. Ia anak petani yang tak mengecap pendidikan formal hingga usia 12 tahun. Keterampilan membaca dan menulis diperoleh dari seorang guru desa, sedangkan pendidikan Islam tradisional dari ayahnya yang juga menjadi Imam masjid desa.

Adonis telah mengenalkan karyanya pada dunia sejak usia 14 tahun. Ia mampu memikat Presiden Suriah saat mendeklamasikan beberapa puisi. Alhasil, ia dikirim bersekolah ke Perancis. Kesempatan tersebut tentu memudahkan Adonis untuk menjelajah dunia seni dan syair dibandingkan di tanah kelahirannya.

Saat kembali dan melanjutkan pendidikan di Universitas Suriah, pencekalan mulai dilakukan. Nyaris sulit mencari media dan penerbit yang mau mempublikasikan karyanya. Pria yang lahir dengan nama Ali Ahmad Said Asbar ini, kemudian memakai nama pena. Diambil dari mitologi Yunani yang berarti ’telanjang’, kata Adonis pun dipilih.

Dalam kuliah umum di Komunitas Salihara, 3 November 2008, tersirat semangat Adonis untuk menyingkap kebenaran. Puisi adalah sebuah jembatan untuk memahami kebenaran yang, sayangnya, tak bisa bersanding dengan kebenaran agama. Puisi adalah pertanyaan sedangkan agama adalah perintah. Bagaimana bisa menyatukan keduanya, jika puisi bertanya pada agama dan agama memerintahkan puisi untuk berhenti bertanya?

Puisi telah hadir sebelum turun wahyu kepada Muhammad SAW. Puisi-lah yang sebelumnya selalu mengundang pembaharuan, sebagai penguji dan kritik terhadap keadaan. Agama (Islam) lebih nampak merendahkan puisi dari pada meninggikannya, seperti tercantum dalam Surat ash-Shafat:36 (Apakah kami akan meninggalkan sembahan-sembahan kami, karena seorang penyair yang majnun?).

Bagi Adonis, Islam merendahkan puisi lalu memuliakan al-Qur’an, padahal al-Qur’an menggunakan gaya bahasa berpuisi. Ayat-ayat puitis itu menitahkan dihentikan etos berdialog dengan kenyataan sebab jawaban semua persoalan telah tersedia dalam al-Qur’an. Penampilan (gaya bahasa) dalam puisi diambil untuk mengerdilkan apa yang menjadi jiwa bagi puisi. Islam telah menempatkan puisi sebagai perkakas dan budak demi menyebarluaskan kebenarannya.

Memang Islam pernah berjaya, tapi apakah itu cukup? Masa kejayaan Islam (kekhalifahan Umayyah hingga kejatuhan kota Baghdad tahun 1258 M) adalah saat pertanyaan tak melulu merujuk jawabannya di al-Qur’an, melainkan dilakukan penalaran dan pengujian terhadapnya. Terhadap hukum (fiqh) pun dilakukan pengkajian hingga tersebut beberapa mazhab. Masa itu disebut Adonis sebagai masa pemberontakkan, yang dimulai dengan penakwilan terhadap teks agama.

Adonis hendak mengajak umat Islam melihat kenyataan kini, saat kejayaan lampau itu sudah berlalu membawa serta etos yang pernah mengukuhkannya. Apakah kebenaran yang dipegang erat-erat telah cukup mampu memuliakan posisi mereka dalam peradaban kini? Apa gunanya menuding Barat sebagai poros kecurangan dan kelicikan, sementara si penuding malah menjadi penikmat (konsumen) produksi yang dituding. Akan lebih baik kalau Islam kembali menginsyafi etos dalam puisi. Etos untuk berani mempertanyakan dan menggugat keadaan tanpa dalih dan batas ketundukan terhadap agama.

Pemikiran Adonis yang memutarbalikkan nilai-nilai dalam Islam itu, membuatnya tak diterima di tanah Arab. Ia pun seakan menolak Islam sebagai sebuah kebenaran.

Lalu, apakah Adonis menyesal dilahirkan sebagai orang Islam? Pertanyaan seorang peserta kuliah umum ini diajukan cukup serius, seolah mewakili cara pandang terhadap kalangan liberal, mungkin juga pertanyaan dalam diri kalangan liberal sendiri. Terlihat mudah dan ringan, Adonis tersenyum menjawab; ”Kalau saya mengkritik Islam, itu berarti saya mencintainya!”

Sumber :

  • Adonis. Kebenaran Puisi dan Kebenaran Agama (makalah). Komunitas Salihara. 3 November 2008.
  • Shatz, Adam. An Arab Poet Who Dares to Differ. New York Times. 3 Januari 2002.
Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: