//
you're reading...
Edisi November 2008

Kalau Umat Perlu Nabi

Edisi November 2008

By : Rika Febriyani

Nabi Muhammad dihadang umat saat menyebarkan Islam, begitu pula dengan nabi lain seperti Nuh, Musa, atau Isa. Kisah-kisah tersebut menjadi catatan bahwa menyampaikan sebuah ajaran harus melalui jalan panjang  yang tak mulus.

Islam adalah sebuah agama baru yang didengungkan Muhammad dalam masa “kelam” masyarakat Mekah. Mereka hidup mengutamakan kepentingan suku, perang antar suku seperti lingkaran setan tanpa batas, sulit ditemukan jalan keluarnya. Perampasasn harta, pembantaian, dan perbudakan suku yang kalah perang adalah hal yang lumrah. Mereka juga gemar mengejar dan menumpuk harta sebanyak mungkin.

Ahmadiyah lahir dari kemunduran peradaban India. Diawali dengan lemahnya kepemimpinan Kerajaan Mughal, yang tak mampu menyelesaikan berbagai persoalan serta dihinggapi penyakit moral yang bertentangan dengan Islam. Dicatat oleh K.W Morgen bahwa mereka terbiasa minum keras, mengisap candu, dan melacur. Kebanyakan umat Islam malas ke masjid sehingga masjid banyak yang kosong.

Mirza tersadar akan prinsip keadilan yang dibawa oleh Islam. Ia melahirkan tulisan untuk melawan serangan misionaris Kristen dan Hindu Ariya dengan menulis buku berjudul Barahiyn Ahmadiyah yang membela Islam. Atas karyanya ini, ia dinyatakan sebagai pembaharu Islam di sekitar tahun 1840. (Ahmadiyah: Keyakinan Yang Digugat. Jakarta: Pusat Data dan Analisa Tempo, 2005, hal 46.)

Pembaruan yang dilakukan Mirza Gulham Ahmad adalah interpretasi baru terhadap ayat-ayat Al Quran sesuai dengan tuntutan zaman dan ‘ilham’ Tuhan kepadanya. Selain itu ia mempelopori gerakan dengan motto ‘cinta damai’ dengan maksud mengajak orang-orang yang telah kehilangan kepercayaan terhadap Islam. Nama Ahmadiyah pun diambil dari salah seorang putra Nabi Muhammad bernama Ahmad, yang berarti keindahan. (Suryawan, M.A. dalam buku Bukan Sekedar Hitam Putih – Kontroversi Pemahaman Ahmadiyah)

Salah satu pemikiran yang membangkitkan umat Islam India adalah pemaknaan jihad. Menurut Mirza, jihad di zaman ini adalah berjuang untuk meninggikan kalimat Islam, untuk menyanggah keberatan pihak lawan, untuk mempropagandakan keistimewaan ajaran Islam, dan menyatakan kebenaran Rasulullah Saw. Praktik jihad pun berubah dari angkat senjata menjadi mengkaji Islam secara holistik terkait dengan prinsip tafsir Al-Qur’an, perbandingan empat mazhab hukum Islam, dan kegiatan lain seperti yang dilakukan para mujahid di masa kejayaan Islam.

Hingga kini, Ahmadiyah telah menyebar selama kurun waktu + 100 tahun. Jumlah pengikut + 10 juta orang mulai dari Indonesia, Malaysia sampai ke Pakistan, Afrika Tengah dan Afrika Barat serta Amerika. Tapi sejak awal pergerakannya, Ahmadiyah telah menuai kecaman yang tak lain disebabkan oleh kontroversi dari Mirza sendiri.

Mirza mengumumkan wafatnya Nabi Isa di Kashmir sehingga ia tidak turun lagi ke dunia. Di waktu lain, ia mengatakan Yesus menikah, melanjutkan misi kenabian dan memiliki keturunan yang masih tinggal di sekitar makamnya (Kashmir). Kontroversi-kontroversi yang diluncurkan tersebut mungkin saja merupakan serangan Mirza atas misionaris Kristen, agar masyarakat menjauhi misionaris Kristen.

Kecaman juga bertitik tolak bahwa Mirza adalah nabi setelah Muhammad. Dasar dari pernyataan ini adalah hadis yang diriwayatkan H.R Muslimin “Aku adalah nabi terakhir dan mesjidku akhir segala mesjid.” Pemahaman atas ini adalah seperti tak adanya mesjid terakhir, sebab masih terus dibangun mesjid, maka begitu pula dengan nabi.

Ahmadiyah memahami hadis dan kenyataan di atas,  bahwa Muhammad adalah pembawa ajaran (Islam) yang terakhir, tapi ia bukan nabi terakhir. Seperti mesjid yang terus dibangun, maka nabi setelah Muhammad akan datang dengan ajaran yang sama atau bukan dengan syariat baru. Mirza adalah seorang nabi yang membawa syariat yang sama dengan Muhammad.

Lalu bagaimana dengan tokoh Islam lain, misalnya seperti Sayid Ahmad Khan. Ia berhasil menjadi penggerak utama bagi terwujudnya pembaruan di kalangan umat Islam India, mengapa Ahmadiyah tidak menobatkannya menjadi nabi? Begitu banyak tokoh Islam yang menciptakan pembaharuan, dan hanya Mirza yang diangkat menjadi nabi.

Tapi bicara tentang penyimpangan, seperti Ahmadiyah dikatakan menyimpangkan Islam dari yang telah diberlakukan selama ini, apakah Muhammad sendiri tak dikatakan sebagai penyimpang? Muhammad membawa ajaran dan konsep ketuhanan baru, yang berlawanan dengan sistem dan nilai kehidupan masyarakat Mekah di masa itu. Muhammad dinyatakan pembebas dari masa kelam dan, dari sudut ini, Islam dan gerakan Ahmadiyah sama-sama lahir dari pola hidup masyarakat yang tak adil untuk keadaan lebih baik.

Riwayat lain yang harus dicermati Muhammad tak menundukkan Madinah dengan kekerasan, apalagi hanya untuk mengislamkan mereka. Masyarakat Madinah sangat beragam. Yahudi, Kristen, Islam, ditambah beberapa puluh orang imigran Mekah rombongan Muhammad. Yang dilakukan Muhammad adalah berdiskusi untuk mencapai kesepakatan antar ragam keyakinan, kebiasaan, dan pola hidup. Masing-masing memperoleh keadilan tanpa dikurangi hak atau ditambah kewajibannya.

Muhammad memberi suri teladan untuk tak melakukan penyerangan bahkan pembunuhan terhadap pihak berkeyakinan lain dari Islam. Yang ditekankan ialah bagaimana umat manusia bertindak adil dalam masyarakat. Jika ia mampu bersikap adil tanpa beragama Islam, itu sudah cukup menjadi bekal bagi kesejahteraan manusia di manapun.

Maka, pemberangusan terhadap Ahmadiyah dengan kekerasan sangat bertolak belakang dengan kepentingan Islam. Amatan terhadap Ahmadiyah seharusnya adalah bagaimana mereka bermasyarakat. Dakwah oleh segolongan orang di sekitar Kampus Mubarok – Parung, Jawa Barat, lebih pantas disebut menghasut hingga hubungan antara Ahmadiyah dan masyarakat terputus. Padahal sejak tahun 1985 hingga 2005 tak ada tindakan nyata dari pihak Ahmadiyah yang merugikan masyarakat sekitar kampus.

Sebaliknya, segolongan orang yang mengaku mengusung kepentingan Islam dan melakukan kekerasan itu, tak mampu adil dalam bertindak. Mereka bergeming pada penyelesaian kasus korupsi yang bertele-tele atau terhadap ketakadilan korban Lumpur Lapindo, dan terhadap banyak kasus yang butuh didesak untuk mewujudkan keadilan.

Tidakkah ini sama dengan kondisi masyarakat Mekah sebelum Muhammad datang? Ada pihak melakukan ketakadilan dan yang memiliki kekuatan untuk mewujudkan keadilan malah bersikap semena-mena. Perlu ada nabi baru?

***

Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: