//
you're reading...
Edisi November 2008

REVOLUSI ISLAM IRAN:Sebuah Wacana Perubahan Berbasis Nasionalisme dan Agama

Edisi November 2008By Wa Ode Zainab Zilullah Toresano

Akhir abad ke-19 dan abad ke-20, dunia digemparkan dengan adanya serangan dahsyat dari kolonialisme dan imperialisme Barat ke dunia Islam. Umat Islam melihat misi yang dilancarkan oleh Barat sebagai ancaman, sehingga terlihat adanya upaya perjuangan untuk membebaskan diri dari interfensi Barat; diawali dengan pembentukan dan pengembangan negara; yang merdeka dan terbebas dari segala tekanan dan permasalahan modernisasi.

Iran merupakan salah satu negara muslim yang dipengaruhi langsung oleh modernisasi. Pada masa kepemimpinan Syah Iran terlihat jelas adanya interfensi Barat. Hal tersebut, berdampak pada konstalasi politik yang ada di Iran, sehingga mengalami pergolakan hebat. Pada akhirnya, perpolitikan Iran diwarnai oleh pertarungan yang dipelopori oleh para ulama dan kaum intelektual dengan Syah Iran yang didukung oleh Barat dengan modernisasinya.

Adanya pengaruh dari politik Barat di dalam percaturan dunia, yakni pemisahan antara paham keberagamaan dan nasionalisme berdampak pula pada masa kekuasaan Syah Iran. Padahal, pemahaman ini bertentangan dengan gagasan Islam mengenai perumusan nasionalisme dan paham keberagamaan. Islam tidak pernah mempersoalkan mengenai kecintaan terhadap tanah air (bangsa). Akan tetapi, perlu diperhatikan di sini, bahwa setiap Muslim agar tidak mencintai tanah air secara sempit. Islam justru mensitesiskan dan mencari titik temu antara nasionalisme dengan agama. Selain itu, paham nasionalisme yang sempit akan memudahkan menjerumuskan suatu bangsa kepada imperialisme dan kolonialisme seperti yang diusung oleh Barat.

Tentunya revolusi Islam Iran didasari juga oleh semangat nasionalisme dan paham keagamaan. Ada perbedaan yang mendasar pada dimensi gerakan antara Revolusi Islam Iran dan Revolusi lainnya, yakni revolusi ini didukung oleh kaum mullah (ulama’) sebagai motor penggerak pada aspek keagamaan, tentunya di samping masyarakat yang turut andil di dalam revolusi ini. Pejuang-pejuang berbagai revolusi –terutama revolusi Islam Iran– bagi dunia Islam menjadi inspirasi dan sekaligus dapat menggentarkan lawan, meskipun sudah menjadi berlalu.

Imam Khomeini membuktikan kepada dunia bahwa Islam tidak terlepas dari politik. Hal itu dikarenakan, Islam bukanlah semata agama, akan tetapi juga merupakan sistem politik. Akan tetapi, politik yang dimaksud di dalam Islam adalah sistem politik yang dapat menyelaraskan posisi antara nasionalisme dan agama. Walaupun, ada upaya dari beberapa kalangan umat Islam yang berusaha mengkotak-kotakkan antara yang satu dengan yang lainnya. Baik, upaya pemisahan antara agama dan politik, maupun antara agama dan nasionalisme. Agama menjadi sesuatu yang eksklusif, padahal agama merupakan satu paket yang mengurusi masalah dunia dan akhirat; di mana antara satu dengan yang lain saling terkait dan saling bergandengan tangan sehingga tidak dapat dipisahkan.

Islam bukan sekedar agama karena Islam merupakan sistem peradaban yang lengkap, yang mencakup di dalamnya agama dan negara secara bersamaan. Dalam hal ini, jelas bahwa Islam bukanlah sekedar kepercayaan agama yang bersifat individual saja, namun meniscayakan berdirinya suatu bangunan masyarakat yang independen dan kokoh. Hal itu dikarenakan, Islam memiliki metode tersendiri dalam sistem pemerintahan dan segala aspek yang berkaitan dengan politik di dalam negara yang sejalan dengan ajaran Islam.

Ideologi merupakan salah satu faktor yang paling menonjol di dalam revolusi Islam Iran. Revolusi ini lebih digerakkan oleh ideologi moral-spiritual dengan menampilkan ulama sebagai mativator revolusi yang mengangkat isu mengenai kebangkitan Islam kontemporer. Selain itu, pada revolusi tersebut terdapat penekanan terhadap identitas bangsa, keaslian budaya, partisipasi politik, dan keadilan sosial disertai dengan penolakan terhadap upaya westernisasi. Dalam hal ini, jelas terlihat bahwa Revolusi Islam Iran mencoba menumbuhkan semangat kebangkitan Islam di dalam bingkai nasionalisme. Kelanjutan dari langkah tersebut adalah adanya pengaruh terhadap dunia Internasional –khususnya pengaruh pada dunia Islam— dengan kata lain adanya pembumian konsep internasionalisme yang berbeda dengan globalisme yang diusung oleh Barat.

Revolusi Iran telah menjadi inspirasi dari sejumlah gerakan di dalam dunia Islam. Kita dapat melihat pengaruhnya pada gerakan Hizbullah di Lebanon dan Suriah, Front Islamic de Salut di Aljazair, Hamas dan Intifadah di Israel dan Palestina, Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Yordania, Mujahidin di Afgnistan, dan masih ada gerakan Islam lainnya. Hal inilah yang paling ditakutkan oleh negara Barat. Hal itu dikarenakan, gerakan tersebut bisa menghancurkan globalisasi yang sedang diusung oleh Amerika Serikat. Suatu saat gerakan yang terinspirasi dari revolusi Iran bisa menggerogoti kapitalisme dan imperialisme.

Kita dapat bercermin pada masa pemerintahan Mohammad Reza Syah Pahlevi, dari kasus pada masa itu terlihat bahwa nasionalisme tidak dapat dibenturkan dengan agama. Adanya upaya Syah untuk memodernisasikan Iran justru menjadi feedback bagi kekuasaannya. Tidak hanya, modernisasi sosial-ekonomi yang dilakukan Syah tidak memikirkan kondisi masyarakat Iran. Akan tetapi juga pada bidang politik. Bahkan, kebijakan yang dibuat olehnya bertentangan dengan kebudayaan Islam, adat-istiadat masyarakat Iran yang erat kaitannya dengan syari’at Islam, dan juga menimbulkan kekecawaan mendalam di kalangan masyarakat karena membuat mereka semakin termarginalkan.

Term “Nasionalisme dan Agama” merupakan term yang terasa menyeramkan untuk disatukan. Mengingat perbedaan mendasar di antara keduanya, sehingga seringkali kita memandang sebelah mata untuk melakukan upaya penyatuan terhadap kedua term tersebut. Seharusnya, hal tersebut menjadi menarik dan layak untuk diperbincangkan, tidak hanya sebuah wacana untuk mencari benang merah hubungan erat di antara keduanya, akan tetapi juga mencoba “membumikan” konsep tersebut sesuai realita dan diharapkan dapat melakukan perubahan terhadap pengkotakan antara paham keberagamaan dan nasionalisme.

Sebenarnya, term nasionalisme sendiri sudah menjadi paradigma di dalam agama. Akan tetapi, ada perbedaan pemahaman mengenai “nasionalisme” di dalam agama dengan nasionalisme yang dipahami secara umum sebagai paham kebanggaan terhadap bangsa sendiri. Nasionalisme menurut Islam tidak dilihat dengan cara pandang yang sempit. Nasionalisme—seperti disebutkan di dalam al-Quran Surat al-Hujurat ayat 13—yang dimaksud pada ayat ini adalah Tuhan telah mencipatakan laki-laki dan perempuan, kemudian dijadikan berbangsa-berbangsa dan bersuku-suku dengan tujuan untuk saling mengenal.

Nasionalisme dalam hal ini, bukanlah suatu paham cinta kebangsaan secara fanatik, sehingga tidak menghargai bangsa lain dan menganggap bahwa bangsa kita adalah di atas segalanya. Namun, nasionalisme adalah paham yang berusaha mencintai kebangsaan dalam bingkai keislaman yang dilandasi oleh semangat internasionalisme. Nasionalisme dalam perspektif tersebut, dapat menggerakkan semangat keislaman didasari oleh penghargaan terhadap kekayaan lokal. Hal itu dikarenakan, Islam sendiri tidak pernah menafikkan kekayaan lokal, termasuk pada saat Islam disiarkan di Jazirah Arab. Islam sangat menghargai kekayaan lokal seperti; budaya, keragaman suku-bangsa, dan tradisi. Bila kita bercermin pada fakta konkret di dalam konteks kekinian, sebuah upaya perubahan yang relevan dan signifikan dalam penyatuan antara nasionalisme dan agama sehingga berdampak pada dunia internasional dapat terlihat pada “Revolusi Islam Iran”.

Akan tetapi, ada poin penting yang mewarnai gerakan perubahan ini. Semangat keberagamaan. Di dalam hal ini, kita dapat lihat secara jelas hubungan erat antara nasionalisme dan agama. Sebenarnya, sebuah gerakan yang berlandaskan semangat nasionalisme dan keberagamaan bisa menjadi suatu gerakan perubahan yang sangat dahsyat, karena menimbulkan dampak secara menyeluruh, tidak hanya pada bangsanya akan tetapi pada dunia internasional. Sebuah ruh baru yang menjadi inspirasi gerakan pembaharuan pada dunia islam yang berlandaskan atas semangat nasionalisme.

Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: