//
you're reading...
Edisi November 2008

Mari Saling Mengenal dengan Baik!

1

By Khayun Ahmad Noer

Ketegangan antara Islam dan Barat dapat dikendurkan bukan dengan perang atau jihad melainkan dengan dialog yang intens antara keduanya. Setidaknya beginilah garis besar apa yang ingin disampaikan Sukidi dalam, tulisannya, “Arti Penting Dialog Islam dan Barat”, yang dimuat Republika beberapa tahun lalu. Sukidi yang sampai kini masih belajar di Harvard University of Amerika tetap bersikukuh bahwa dialog merupakan cara yang paling tepat untuk menangani “dosa warisan” yang sedang dijalani Islam dan Barat.

Tulisan ini menarik perhatian ketika, beberapa waktu kemudian setelah tulisan ini diterbitkan, tanggapan atasnya muncul. Tulisan Adian Husaini yang juga dimuat dalam surat kabar yang sama, membantah dan menegaskan bahwa apa yang disampaikan Sukidi, yang menolak jihad dan perang sebagai langkah yang harus ditempuh umat Islam untuk menciptakan kedamaian, adalah salah.

Dua tulisan yang saya kira cukup bagus untuk ditelaah kembali untuk melihat opsi yang mungkin dapat diambil baik oleh Barat maupun Islam dalam menyikapi pertikaian yang telah berurat akar sejak berabad-abad tahun yang lalu. Sukidi dengan soft solving problem-nya dan Adian Husaini yang menjunjung hard solving problem dalam menanggapi Barat. Dialog versus jihad.

Dalam tulisannya Sukidi melihat bahwa jihadisme dalam Islam yang semakin marak muncul, terutama paska 11 September 2001, tidak akan memunculkan dampak positif bagi hubungan antara Islam dan Barat yang semakin memburuk. Bahkan bagi Islam sendiri hal itu memberikan ekses negatif. Jihad yang saat ini dipraktekkan sebagian umat Islam semakin menampilkan citra buruk Islam dan semakin menghilangkan rasa simpati dari seluruh komunitas dunia.

Jika melihat kembali kasus pembajakan dua pesawat penumpang pada peristiwa sebelas September yang dilakukan orang Islam, atau juga melihat tindakan Imam Samudra yang mengatasnamakan Islam pada tragedi Bali, wajah Islam benar-benar menakutkan. Berkat praktek-praktek kehidupan atas nama agama seperti inilah islamofobia kemudian menjangkiti Barat. Sebuah indikator yang kurang baik tentunya bila ini dikaitkan dengan isu perdamaian dunia, bagaimanapun Islam dan Barat memiliki signifikansi dalam pengupayaan hal ini.

Pendapat inilah yang ditentang Adian Husaini, dia balik menyatakan bahwa upaya dialog dalam menyikapi pergumulan Islam dan Barat adalah ide utopian yang mustahil dilakukan, melihat posisi Islam dan Barat yang  tidak sejajar. Sebuah dialog tidak akan berjalan dengan hasil yang diharapkan, bila salah satu pihak memposisikan diri lebih tinggi dari pada yang lain. Dan menurut Adian, Sukidi seperti melupakan hal ini sama halnya ketika ia menentang habis-habisan praktek jihad yang kini sedang marak terjadi. Sukidi lupa bahwa sebuah pedang telah menancap di jantung-jantung negeri Islam, dan menyatakan bahwa hal itu harus diselesaikan dengan dialog. Ketika membicarakan perang yang sampai kini masih terjadi di negeri-negeri kaum muslim, seperti Irak, Afghanistan, dan Palestina, berarti membicarakan imperialisasi yang dilakukan Barat, dengan motor penggerak Amerika. Apakah jihad salah, ketika melihat bahwa kondisinya seperti ini? Apakah kesewenang-wenangan harus dihadapi dengan dialog yang tidak representatif, bahkan terkesan hanya menampilkan drama monolog belaka? Ketika melihat hal ini, jihadlah yang menemukan relevansinya, bukan dialog-dialog seperti yang dianjurkan oleh Sukidi.

Namun layakkah dua opsi yang diangkat Sukidi dan Adian dipertentangkan, diupayakan menghilangkan satu sama lain?

Pada dasarnya tidaklah tepat jika ada dikotomi antara dialog dan jihad, ketika Islam menghadapi imperialisme dan penindasan. Dua-duanya memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing, yang tentu karena itu tak dapatlah dikatakan bahwa keduanya patut dipertentangkan. Sukidi dengan kacamata akademisnya melihat bahwa dialog antara pihak yang terlibat akan memiliki harapan perdamaian jangka panjang, yang memang tidak dapat dilhat secara langsung hasilnya dalam jangka waktu yang singkat. Opsi ini ketika diterapkan di Palestina, di Pattani, atau juga dulu di Bosnia yang setiap detik moncong senapan siap mengeluarkan isinya dan rudal-rudal terbang ke sana- ke mari, tentu merupakan tindakan yang sangat tidak bijak juga.

Begitupun dengan opsi jihad yang dibela Adian Husaini, di satu sisi adalah seruan agama dan juga panggilan jiwa yang harus melawan segala bentuk imperialisme, namun di sisi yang lain opsi semacam ini memiliki kecenderungan lebih mengaabadikan pertikaian dan permusuhan daripada menciptakan kedamaian. Bagaimanapun melawan kekerasan dengan kekerasan adalah tindakan pelanggengan kebencian dalam diri orang-orang yang bertikai, meskipun lagi-lagi itu sangat diperlukan sekali untuk sebuah negara yang sedang dijajah bangsa lain.

Kita dapat melihat ekses negatif Perang Salib yang terjadi beberapa abad lalu. Mode kekerasan yang menyelimuti peristiwa ini begitu berpengaruh pada pola pikir orang kebanyakan orang Barat yang memandang Islam sebagai agama anarkis, dengan sejarah penuh noda darah. Karikatur Nabi yang pernah dimuat sebuah surat kabar Swedia, Jylland Posten, kemudian juga masih dengan tema “kekerasan” Muhammad versi mereka, Nikeas Allehanda, surat kabar dari Denmark, juga melakukan hal yang sama menebar propaganda anti Islam. Tak lama berselang, politisi sayap kiri Belanda juga menghimbau orang-orang Barat untuk memusuhi Islam, melalui film pendek berdurasi 17 menit, Fitna. Sebagian besar orang Barat seperti tidak dapat lepas dari paradigma negatif tentang Islam. Tetapi bukan berarti semua orang Barat seperti itu, hanya saja sampai saat ini memang sebagian besar orang Barat masih memiliki anggapan yang negatif terhadap Islam.

Terinspirasi opsi yang ditawarkan Sukidi dan Adian, saya berasumsi bahwa konflik Islam dan Barat berlarut-larut karena pengenalan satu sama lain yang bermasalah. Sekian lama setelah pertemuan dalam pertempuran sengit pada Perang Salib, keduanya seolah saling menghindar satu sama lain. Hal ini diperparah lagi dengan adanya penguasaan paksa yang dilakukan negara-negara Barat terhadap negeri-negeri jajahan, yang tidak sedikit dihuni orang-orang Islam. Pola hubungan keduanya makin sulit saja bertemu dalam satu titik saling tahu yang lebih baik. Barat dengan superioritasnya dan Islam dengan phobia-nya, semakin saling menjauhkan diri.

Paska sebelas September pola hubungan ini mulai ada perubahan signifikan. Meskipun dengan cara yang agak berbeda. Barat dengan “keangkuhannya”mulai mencoba mengenal Islam. Berawal dari kebencian upaya saling mengerti antar keduanya semakin membaik. Rasa penasaran Barat terhadap Islam diwujudkan dengan adanya studi-studi keislaman yang lebih intens di negara-negara Barat. Nada-nada sinis perlahan tapi pasti mulai menurun seiring pengetahuan yang semakin bertambah tentang Islam. Bahkan tidak jarang dari proses pengenalan itu, berbuah ketertarikan sebagian orang Barat untuk menyelami samudera keislaman.

Di Eropa sendiri, warna Islam semakin kental memberi nuansa beda di sana. Di Inggris 10% dari jumlah penduduknya adalah para pemeluk agama yang dibawa Muhammad, inipun masih memiliki kecendrungan naik seiring berjalannya waktu. Tidak hanya di Inggris, di Jerman, di Swedia, Italia, dan hampir seluruh kawasan Eropa mengalami hal yang sama. Islam mulai merasuki negeri Benua Biru. Di Jerman seiring bertambahnya jumlah penduduk yang beragama Islam, pemerintahan setempat mengijinkan pembangunan sebuah masjid Agung di pusat kota negeri itu. Di Italia, meski ada himbauan untuk warga setempat dari para uskup gereja agar tidak menikahi orang-orang muslim, terutama para imigran, nyatanya wanita di sana tidak hilang minat untuk membina keluarga dengan pria-pria muslim. Paling menarik terkait dengan kebijakan pemerintah, terjadi di Spanyol, pemerintah membolehkan sekolah-sekolah negeri di sana mengajarkan pelajaran-pelajaran Islam, dengan alasan untuk menekan jumlah sekolah swasta Islam. Sebuah bentuk akomodasi yang saya kira cukup bagus membangun hubungan antara Islam dan Barat.

Kembali pada opsi yang ditawarkan dua orang di atas, baik dengan cara lunak maupun keras, saya kira keduanya sama-sama penting dengan melihat koridor masing-masing tentunya. Jihad dengan mengangkat senjata hanya ketika dalam kondisi memungkinkan untuk mengangkat sejata saya pikir adalah keharusan yang tida bisa ditinggalkan. Namun sayang, jihad sebagai sebuah opsi untuk melepaskan diri dari cengkeraman kekuatan lain ini sering disalahpahami dan kerap digunakan sebagai legitimator untuk mengintervensi pihak yang tidak sepaham. Sedangkan upaya dialog saya kira juga penting, senjata tak selalu dapat menjawab apa yang seharusnya dapat segera diselesaikan. Namun, sekali lagi, pertikaian sengit yang berlangsung berabad-abad ini ada karena kedua kubu, baik Islam maupun Barat, tidak saling mengenal dengan baik. Dan tidak ada salahnya jika misalnya satu sama lain saling terbuka membuka dialog budaya yang lebih intens, demi pengenalan yang lebih baik tentunya, demi dunia yang lebih baik.

Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: