//
you're reading...
Edisi November 2008

Kekerasan Atas Nama Agama; Haruskah Terjadi?

Edisi November 2008

by Izzah

Peristiwa penyerangan gedung kembar WTC (World Trade Center) 11 September 2001,  melahirkan dampak  negatif terhadap Islam. Islampun seperti menjadi agama penyebar kekerasan di mata dunia. Sehingga munculnya isu-isu kekerasan terkait dengan Islam menjadi hal biasa. Baik sebagai pelaku, maupun sebagai korban. Begitu banyak tindakan-tindakan kekerasan atas nama agama setelah peristiwa ini.

Beragam pertanyaan tentang Islam terkait dengan inipun bermunculan. Benarkah Islam menganjurkan kekerasan, ataukah sebaliknya? Dan apa definisi kekerasan itu? Dan ketika menghubungkan hal ini dengan jihadisme, apakah jihad merupakan manifestasi dari kekerasan? Dan kemudian apa yang dikatakan Al-Qur’an tentang jihad dan perang suci?

Apakah kita harus membenarkan tindakan tersebut sebagai jihad yang mulia? Saya kira mayoritas umat Islam pun kecewa dengan kejadian tersebut, dan tidak hendak menerima jihad dengan kekerasan sebagai sebuah ajaran yang dianjurkan Islam. Islam tidak memerintahkan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pembunuhan massal, apalagi orang-orang yang tak berdosa pun ikut menjadi korban.

Namun di sini juga saya akan mengungkapkan kebingungan saya tentang hal itu, andaikan gerakan jihad yang dilakukan umat Islam itu mengakibatkan pertikaian, apakah harus dibenarkan? Kemudian jihad bagaimanakah yang sebenarnya dianjurkan oleh agama?

Tindakan kekerasan yang dikaitkan dengan agama hanyalah manifestasi tindakan orang-orang yang mengartikan agama secara sempit. Hingga banyak orang berpandangan bahwa jihad identik dengan kekerasan (perang), yang mungkin tepat diterapkan di Afghanistan dan Irak atau juga Palestina. Sayangnya, sebagian umat Islam memaknai dan mempraktikkan jihad tidak secara kontekstual. Memandangnya sebagai gerakan penyerangan terhadap semua orang yang tak sepaham.

Di dalam Al-Quran memang benar ada ayat-ayat yang potensial melegitimasi jihad dengan kekerasan (perang). Yakni berjuang di jalan Allah untuk melindungi agama. Akan tetapi bukan berarti menganjurkan tindakan kekerasan yang menimbulkan keresahan dan kehancuran di dunia. Dan ternyata hal tersebut disalahartikan. Mereka (para pelaku) hanya menggunakan model pembacaan tekstual saja, belum sampai pada pembacaan atau penafsiran secara kontekstual.  Sehingga pada akhirnya mereka akan menerima semua teks tersebut tanpa melihat hal-hal lain terkait turunnya ayat-ayat itu. Mereka dengan metode seperti itu membenarkan dan menjadikan agama sebagai sumber tindakan kekerasan, dan berbuat seenaknya sendiri dengan membawa nama agama.

Pertarungan dalam memaknai jihad

Jihad merupakan salah satu perintah agama yang tercantum dalam Al-Qur’an. Disertai sikap yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak merugikan siapapun.

Pentingnya jihad berakar pada perintah yang tercantum dalam Al-Qur’an untuk berperang di jalan Tuhan. Di sini saya kira berperang di jalan Tuhan bukan hanya berperang melawan orang-orang yang menindas agama ataupun yang menganiaya saudara kita, baik datang dari muslim ataupun non-muslim. Namun, jihad di jalan Allah adalah berjihad dalam diri kita sendiri, yakni jihadun an-nafs untuk melawan hawa nafsu kita.

Kemudian mengenai perintah jihad sendiri dapat dilihat dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Seperti dalam surat Al-Anfal (8:57) yang menyebutkan bahwa; “Jika kalian bertemu dengan mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, agar mereka bisa menarik pelajaran.” Yang kemudian dilanjutkan oleh surat Al-Anfal ayat 61 yang mengatakan “Jika mereka cenderung pada perdamaian, maka cenderunglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.”

Dalam surah Al-Baqarah (2:190) Allah menyatakan; “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Dari ayat tersebut secara tekstual jelas bahwa, kita memang perlu melawan atau memerangi orang-orang yang telah menindas agama maupun umat Islam. Namun, semua itu memiliki koridor-koridor atau aturan-aturan yang tidak melampai batas. Oleh karena itu, kita perlu memahami ayat-ayat Al-Qur’an secara kontekstual, sehingga kita dapat mengetahui maksud dari ayat tersebut secara jelas dan kita juga dapat mengetahui tentang sebab turunnya ayat tersebut. Kontekstualisasi semacam inilah yang seharusnya dikembangkan. Tidak hanya benar dalam melihatnya, juga baik dalam proses satu teks diterapkan dalam kehidupan umat Islam.

Sejauh pengamatan saya, pengertian tentang jihad dapat dilihat dalam empat cara. Pertama, pendapat yang menyatakan bahwa jihad adalah sebuah peperangan yang harus dilakukan umat Islam untuk melawan musuh-musuh Allah. Kedua, jihad dimaknai sebagai upaya menjadi muslim yang baik dengan penekanan melawan hawa nafsu dalam diri mereka. Dan yang ketiga, jihad adalah kerja keras menyebarkan risalah Islam. Dan terakhir adalah pandangan Ayatullah Mahmud Taleqani dan Murtadha Muthahari yang berpendapat bahwa jihad merupakan pembelaan atas nyawa, akidah, dan integrasi salah seorang dari umat Islam. Dalam konteks ini Muthahari menafsirkan pembelaan tersebut secara luas yakni yang mencakup perlawanan terhadap penindasaan yang terjadi di manapun. Dan lagi-lagi pendekatan yang digunakan adalah kontekstualisasi. Melihat apa yang ada di sekiling kita. Ketika kata jihad, dalam empat pengertian ini sekalipun, tidak mendapatkan citra kontekstualnya, yang didapat adalah praktek membabi buta tanpa mau melihat betapa banyaknya kemungkinan yang ada. Dan itu dapat dipilih mana yang terbaik. Sebagai umat Islam, saya kira kita harus mulai belajar memilih yang benar-benar terbaik untuk kita dan sekalian alam.

Banyak hal yang harus dibenahi dalam masalah ini, sebagai umat Islam kita wajib melindungi dan membela agama kita dari penindasan orang-orang kafir. Menunjukkan Islam sebagai agama yang toleran dan sebagai agama rahmatal lil alamin.

Dan dalam bagian terakhir ini, saya ingin menyatakan bahwa Islam bukanlah agama yang intoleran. Dan nampaknya Islam sekarang menjadi korban. Atau hanyalah sedang dimanfaatkan dan dipermainkan demi suatu misi oknum ataupun politisi yang dijadikan topeng untuk melakukan kekerasan yang sehingga timbul image kekerasan pada Islam. Dan kebanyakan dari kita tidak menyadari hal itu.

Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: