//
you're reading...
Aksara, Edisi November 2008

Dua Wajah Islam: Moderatisme vs Fundamentalismed dalam Wacana Global

Dua wajah IslamPada dasarnya tidaklah begitu baru gagasan yang ditawarkan Sthepen Sulaiman Schwartz dalam bukunya ini. Paling tidak, tak sebaru apa yang dikatakan Gus Dur dalam bedah buku ini di Paramadina dengan tema Dua Wajah Islam: Moderatisme Vs Fundamentalisme dalam Wacana Global, di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina Jl. Gatot Subroto, Kav. 96-97, Mampang Prapatan Jakarta Selatan, Rabu, (31/10/2007) malam. Ketua PBNU ini menyatakan bahwa para orang-orang Wahhabi merupakan keturunan Musailamah al-Kadzab (orang yang mengaku nabi palsu itu). Dan masih menurut Gus Dur, untuk menebus rasa malu karena ulah kakek moyangnya, maka orang-orang ini rela menjadi kaki tangan keluarga kerajaan Saud. Membicarakan Islam dan perkembangannya, dengan dua titik focus, fenomena Moderatisme Islam dan fundamentalisme Islam.

Namun, buku ini tetap menarik. Bahkan akan sangat menarik lagi jika para pembaca adalah mereka yang suka kedetailan dan hal-hal yang kaya akan informasi. Buku ini akan sangat pas bagi mereka yang ingin mendapatkan informasi lebih seputar dunia Islam. Ketika membaca halaman per halaman, pembaca akan dihadapkan pada peristiwa-peristiwa yang  seperti baru. Ditarik masuk dalam untaian kata tiap kata yang membawa pada luasnya cakrawala keislaman. Hanya saja, dari segi proporsinya lebih banyak membahas fundamentalisme Islam dengan titik focus pada wahabbi ketimbang Moderatisme Islam. Di satu sisi menjadi keunggulan, karena dengan begitu buku begitu banyak memberikan informasi tentang wahabisme, namun di satu sisi wajah islamnya kurang begitu diangkat.

Buku ini unggul dalam hal informasi-informasi yang selain akurat juga up to date, atau dijadikan seakan baru. Kedetailan data semisal, masa-masa perkembangan Wahabi hingga penyebaran dan perannya dalam perang-perang di beberapa negeri Islam seperti Afghanistan disajikan begitu nyata dan menarik melalui ungkapan-ungkapan para pelaku sejarah di dalamnya. Kematangan Stephen Sulaiman Schwartz sebagai seorang mantan jurnalis VoA (Voice of America) terlihat dalam karya ini. Ditambah lagi gaya bahasa yang tidak membosankan. Menjadikan buku ini bagus dijadikan salah satu rujukan dalam mengenali Islam dengan dua topeng yang ada.

Selamat membaca!

Advertisements

About suratkitaonline

Surat Kita adalah Media Komunikasi dan Belajar dalam Tulis Menulis Bagi Mahasiswa The Islamic College. Juga, Sebagai Wadah Pembelajaran Media ini tidak Sepenuhnya Tertutup untuk Umum.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: